Pemerintah Taliban di Afghanistan mengambil kebijakan penting untuk mengubah pasar obat di negara tersebut. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor obat dari Pakistan, sekaligus meningkatkan produksi obat dalam negeri.
Namun, perubahan drastis ini justru menimbulkan sejumlah masalah serius bagi industri farmasi dan masyarakat. Ketergantungan lebih dari setengah kebutuhan obat pada pasokan Pakistan sulit diatasi dalam waktu singkat.
Dampak Penghentian Impor Obat dari Pakistan
Pembatasan impor obat dari Pakistan diberlakukan usai terjadinya bentrokan perbatasan. Menteri Keuangan Taliban mengimbau seluruh importir mencari sumber alternatif yang legal dan dapat dipercaya. Namun, tidak ada penggantian yang mudah.
Salah satu apoteker di Kabul, Mujeebullah Afzali, mengungkapkan kenaikan harga dan kelangkaan obat makin dirasakan. Biaya pengangkutan obat yang sebelumnya 6-7 persen kini meningkat hingga 25-30 persen dari total pengeluaran, menambah beban bisnis.
Transportasi melalui perbatasan Iran di Islam Qala menyebabkan biaya naik 10-15 persen. Waktu pengiriman memanjang, melambatkan distribusi obat ke apotek dan rumah sakit.
Upaya Penggantian Pasokan dan Produksi Lokal
Kementerian Kesehatan menekankan masalah utama sebelum ini adalah maraknya obat palsu dan ilegal dari Pakistan. Juru bicara kementerian, Sharafat Zaman, menyatakan mereka kini bekerja sama dengan sejumlah negara seperti India, Iran, Bangladesh, Uzbekistan, Turki, China, dan Belarus untuk mempersiapkan alternatif pasokan obat.
India menjadi pemasok kedua terbesar sebagai solusi pengganti, terutama untuk kebutuhan obat utama masyarakat. Selain itu, produksi dalam negeri mulai berkembang dengan sekitar 600 jenis obat lokal yang sudah tersedia.
Perusahaan farmasi nasional, Milli Shifa Pharmaceutical, memproduksi sekitar 100.000 botol serum dan antibiotik setiap hari. CEO Nasar Ahmad Taraki mengatakan kapasitas produksi dapat ditingkatkan dua kali lipat jika permintaan meningkat.
Meski demikian, produksi lokal saat ini masih sangat terbatas. Negara masih bergantung pada impor bahan baku, menghadapi biaya energi yang tinggi, dan minimnya infrastruktur yang mendukung produksi obat secara mandiri.
Tantangan Pasokan dan Harga Obat
Penggantian obat impor tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain waktu pengiriman yang lebih lama, harga obat lokal terkadang lebih mahal dibandingkan produk Pakistan yang sudah lama dipercaya masyarakat.
Ada persepsi yang kuat di kalangan pasien bahwa obat Pakistan lebih efektif, sehingga obat dari India atau negara lain sulit diterima secara luas. Hal ini menambah tantangan untuk mengubah preferensi konsumsi masyarakat.
Para dokter juga menghadapi kesulitan dalam meresepkan obat. Mereka harus menyesuaikan resep dan mencari alternatif yang sesuai, sehingga menghabiskan waktu lebih banyak dalam proses perawatan pasien.
Konsekuensi Jangka Pendek dan Upaya Jangka Panjang
Kebijakan ini berpotensi memperumit layanan kesehatan dalam jangka pendek. Pasien mengalami kelangkaan obat, sering berganti jenis obat, dan menghadapi kenaikan biaya pengobatan.
Meskipun demikian, pemerintah berharap perubahan ini dapat mengakhiri dominasi pasar obat dari Pakistan dan mendorong pengembangan sektor farmasi domestik. Dengan dukungan fasilitas dan infrastruktur yang memadai, Afghanistan dinilai mampu menutup kekosongan suplai obat secara bertahap.
Langkah ini menjadi ujian besar bagi sistem kesehatan Afghanistan untuk menyeimbangkan kebutuhan praduga keamanan, ketersediaan obat, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat. Pemerintah dan pelaku industri perlu terus bekerja sama demi memastikan perubahan ini tidak mengorbankan kualitas perawatan dan akses obat bagi warga.





