Nissan Pangkas Waktu Bikin Mobil Jadi 2 Tahun, AI Disiapkan untuk Kejar 7 Model Baru

Nissan menyiapkan percepatan besar dalam proses membuat mobil baru dengan mengandalkan kecerdasan buatan atau AI. Langkah ini dinilai penting karena pabrikan Jepang tersebut berencana meluncurkan tujuh model global dalam satu tahun ke depan.

Target yang dipasang cukup agresif. Nissan ingin memangkas waktu pengembangan mobil baru hingga separuhnya, dari pola sebelumnya menjadi hanya sekitar dua tahun.

Kebijakan itu disampaikan menjelang rapat pemegang saham Nissan pada 23/6. Presiden Nissan, Ivan Espinosa, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi seperti AI diyakini dapat memperpendek periode pengembangan kendaraan baru.

Dorongan untuk bergerak lebih cepat juga tidak lepas dari perubahan peta persaingan industri otomotif. Kecepatan pabrikan Tiongkok dalam membawa model dari tahap sketsa hingga hadir di dealer disebut banyak ditopang oleh pemanfaatan teknologi secara maksimal dan masif.

Target pengembangan dipangkas drastis

Salah satu contoh paling jelas dari strategi baru ini terlihat pada Nissan Skyline. Model sport legendaris tersebut ditargetkan hadir dalam versi terbaru pada paruh pertama 2027.

Waktu pengembangan Skyline disebut hanya 26 bulan. Angka itu jauh lebih singkat dibanding pola pengembangan Nissan sebelumnya yang mencapai 56 bulan.

Perbedaan ini menunjukkan besarnya tekanan efisiensi yang kini sedang dibangun Nissan. AI tidak hanya diposisikan sebagai alat bantu tambahan, tetapi sebagai bagian penting untuk mengubah ritme kerja pengembangan produk.

Bila target itu tercapai, Nissan berpeluang mempercepat pembaruan lini produknya secara signifikan. Hal ini menjadi penting saat pasar bergerak cepat dan siklus model baru semakin pendek.

Bukan hanya untuk satu model

Pemanfaatan AI tidak dibatasi pada Skyline saja. Nissan juga menerapkannya pada pengembangan sejumlah model yang sudah berada di tahap pemasaran, termasuk Kicks dan Elgrand.

Langkah itu menunjukkan bahwa teknologi ini dipakai lintas proyek, bukan hanya untuk satu mobil unggulan. Dengan kata lain, AI mulai menjadi bagian dari proses kerja yang lebih luas di tubuh perusahaan.

Selain Skyline, Nissan juga disebut menyiapkan satu SUV yang dimensinya lebih kecil dibanding Kicks. Informasi ini memberi sinyal bahwa percepatan pengembangan akan menjangkau segmen yang lebih beragam.

Ada pula rencana menghadirkan satu model MPV baru. Karakternya disebut sebagai perpaduan antara Note dan Serena, yang mengarah pada kombinasi dimensi ringkas dan kepraktisan kabin keluarga.

Pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa Nissan tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga mencoba merespons kebutuhan pasar dengan format produk yang lebih spesifik. AI dipakai untuk mendukung proses itu agar pengembangan tidak memakan waktu terlalu lama.

Disiapkan untuk kolaborasi dan riset jangka panjang

Pemakaian AI juga akan disinergikan dengan sejumlah rencana kolaborasi bersama pabrikan lain. Salah satu yang disebut adalah kerja sama dengan Honda untuk membangun satu mobil di segmen NEV.

Keterlibatan AI dalam proyek kolaboratif ini menandakan bahwa Nissan melihat teknologi tersebut sebagai fondasi kerja bersama, bukan sekadar alat internal. Ini bisa mempercepat proses penyamaan konsep, pengembangan, dan eksekusi produk lintas perusahaan.

Untuk memperkuat arah kerja baru itu, Nissan juga menyiapkan pembangunan pusat riset global di kota Yomiuri, Jepang. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya menopang transformasi proses pengembangan kendaraan ke depan.

Pusat riset tersebut berpotensi menjadi simpul penting dalam integrasi teknologi, pengembangan model, serta kerja sama lintas proyek. Di tengah kebutuhan untuk bergerak lebih cepat, investasi pada infrastruktur riset menjadi penopang yang masuk akal.

Tekanan pasar mendorong perubahan

Perubahan strategi Nissan tidak datang tanpa alasan. Industri otomotif sedang bergerak ke fase yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan kemampuan membaca tren pasar dalam waktu singkat.

Dalam konteks itu, keberhasilan pabrikan Tiongkok mempercepat lahirnya model baru menjadi acuan penting. Nissan tampaknya ingin mengejar ketertinggalan ritme dengan mengubah metode kerja pengembangan secara mendasar.

Dengan tujuh model global yang direncanakan hadir dalam setahun ke depan, tantangan utama Nissan bukan hanya soal desain atau teknologi kendaraan. Tantangan besarnya adalah bagaimana seluruh proses, dari perencanaan hingga siap dipasarkan, bisa dipadatkan tanpa kehilangan arah produk.

Skyline menjadi salah satu proyek yang paling menonjol dalam perubahan ini karena memiliki target waktu yang sangat pendek dibanding kebiasaan lama Nissan. Namun skala penerapan AI pada Kicks, Elgrand, SUV baru yang lebih kecil dari Kicks, serta MPV bergaya gabungan Note dan Serena menunjukkan bahwa transformasi ini menyentuh lebih dari satu lini produk.

Bagi Nissan, AI kini bukan lagi sekadar istilah teknologi yang mengikuti tren. Perannya mulai ditempatkan sebagai mesin percepatan utama untuk mengejar jadwal produk yang lebih rapat, memperkuat kolaborasi, dan menata ulang cara mobil baru dilahirkan.

Source: otodriver.com

Terkait