India menjadi tuan rumah KTT kecerdasan buatan (AI) yang menyoroti berbagai isu penting, termasuk keselamatan anak dan dampak teknologi terhadap lapangan kerja. KTT yang berlangsung selama lima hari ini bertujuan menetapkan peta jalan bersama untuk tata kelola dan kolaborasi AI secara global.
KTT AI Impact di New Delhi merupakan pertemuan tahunan keempat yang sebelumnya diselenggarakan di Paris, Seoul, dan Bletchley, Inggris. Pemerintah India mengantisipasi kehadiran puluhan ribu peserta dari berbagai negara, termasuk 20 pemimpin nasional dan 45 delegasi tingkat menteri.
Agenda dan Fokus KTT AI Impact
KTT ini mengangkat tema luas yaitu "orang, kemajuan, planet" yang juga disebut tiga "sutra". Diskusi mencakup bagaimana AI dapat meningkatkan keselamatan di jalan raya India dan peran perempuan Asia Selatan dalam teknologi AI. Selain inovasi, tata kelola yang bertanggung jawab dan kolaborasi internasional jadi fokus utama.
Meski demikian, beberapa pengamat meragukan komitmen konkret para pemimpin dunia dalam mengendalikan perusahaan AI raksasa. Amba Kak dari AI Now Institute menyatakan bahwa komitmen di ajang seperti ini biasanya bersifat sukarela dan memberi ruang bagi perusahaan teknologi untuk mengatur diri sendiri.
Isu Keselamatan dan Regulasi
Kekhawatiran mengenai risiko AI terhadap masyarakat dan lingkungan semakin besar, termasuk potensi penyebaran informasi palsu seperti deepfake. Studi dari AI Asia Pacific Institute menunjukan perlunya regulasi yang lebih ketat agar dampak negatif dapat diminimalisir, terutama yang berkontribusi pada kerentanan anak.
Pengalaman dari KTT sebelumnya di Paris memperlihatkan adanya kesepakatan negara-negara untuk mengatur AI secara terbuka dan etis. Namun, Amerika Serikat menarik diri dari pernyataan tersebut dengan alasan regulasi berlebihan dapat menghambat perkembangan sektor teknologi yang sedang tumbuh.
Posisi India dalam Persaingan Global AI
India kini menempati peringkat ketiga dalam daya saing AI global versi Stanford University, melampaui negara seperti Korea Selatan dan Jepang. Namun para ahli mengingatkan bahwa India masih perlu banyak pembangunan infrastruktur dan inovasi agar setara dengan Amerika Serikat dan China.
Sektor layanan pelanggan dan dukungan teknis di India sangat rentan terhadap otomatisasi AI. Harga saham perusahaan outsourcing menurun karena kemajuan alat asisten suara AI. Peush Bery, pendiri startup AI di India, mengakui bahwa alat-alat ini dapat menggantikan pekerjaan operator call center dalam beberapa tahun, tetapi masyarakat akan menyesuaikan diri.
Langkah Adaptasi dan Peluang Baru
Menurut Bery, munculnya bidang pekerjaan baru seperti spesialis data yang memastikan AI dapat mengenali berbagai aksen adalah wujud evolusi pekerjaan. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI mengurangi beberapa jenis pekerjaan, teknologi juga membuka peluang baru di ekosistem kerja modern.
Pemerintah India memandang KTT ini sebagai langkah penting untuk membentuk visi bersama mengenai “AI untuk banyak orang, bukan hanya segelintir pihak”. Harapannya, regulasi dan cakupan diskusi yang inklusif dapat memperkuat posisi India sebagai kekuatan baru dalam pengembangan teknologi global.
