Satu tahun setelah film dokumenter Palestina-Israel No Other Land meraih penghargaan Academy Award, para pembuat film mengungkapkan peningkatan serangan oleh pemukim Israel di Masafer Yatta, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Co-director Hamdan Ballal menyatakan bahwa kekerasan yang menimpa komunitasnya kini semakin parah dan lebih terorganisir.
Kejadian terbaru terjadi ketika para pemukim menyerang kampung Susya, tempat tinggal Ballal, meski ada putusan pengadilan Israel yang membatasi akses bagi orang luar. Namun, aparat militer yang dipanggil keluarga justru mendukung para penyerang dan tidak menegakkan keputusan pengadilan tersebut.
Serangan dan Intimidasi Terhadap Keluarga Ballal
Dalam insiden ini, salah satu saudara Ballal sempat dicekik oleh aparat Israel dan kemudian dirawat di rumah sakit akibat kesulitan bernapas. Empat anggota keluarganya lainnya juga ditahan selama beberapa jam sebelum akhirnya dibebaskan. Ballal menjelaskan, serangan ini merupakan kelanjutan dari serangan sebelumnya yang menimpanya setelah kembali dari upacara Oscar.
Tidak seperti saat serangannya yang mendapat perhatian internasional, kini balasan terhadap film dokumenter itu ditujukan kepada keluarganya untuk menghindari sorotan media. Keluarga Ballal sering mengalami penghalangan dalam menggembalakan ternak dan mengolah tanah mereka. Mereka juga kerap menjadi sasaran penangkapan, interogasi mengenai kegiatan Ballal, dan tekanan agar meninggalkan rumah mereka.
Film Dokumenter dan Konflik di Masafer Yatta
No Other Land mengikuti kisah dua jurnalis, Basel Adra dari Palestina dan Yuval Abraham dari Israel, berusaha melindungi rumah-rumah warga Palestina di Masafer Yatta yang semakin dilanda ketegangan dengan para pemukim. Film ini juga melibatkan sutradara Israel Rachel Szor dan berhasil mendapatkan Oscar bagi dokumenter terbaik.
Pemukim Israel di wilayah ini sering menggunakan ternak mereka untuk menggembala di lahan-lahan Palestina sebagai bentuk penguasaan dan penetrasi ilegal. Tindakan ini memutus akses warga Palestina terhadap pertanian dan peternakan mereka. Pihak militer Israel membenarkan tindakan penggusuran desa-desa tersebut dengan alasan melakukan konversi kawasan menjadi zona latihan militer, namun tidak merespons insiden terbaru di Susya.
Kebijakan Pemerintah Israel dan Dampaknya
Pemerintahan koalisi sayap kanan di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin memperluas kontrol atas wilayah Palestina di Tepi Barat. Pengumuman terbaru termasuk dilanjutkannya proses pendaftaran tanah untuk pertama kali sejak 1967. Langkah ini memicu kekhawatiran kelompok hak asasi Israel dan internasional karena dianggap akan mempercepat penggusuran dan pengusiran warga Palestina secara ilegal.
Dampak Kekerasan Terhadap Tokoh dan Komunitas Palestina
Keluarga Ballal bukan satu-satunya yang mengalami konsekuensi akibat film tersebut. Basel Adra, salah satu protagonis Palestina, menghadapi penyerangan rumah oleh militer Israel setelah bentrokan dengan para pemukim di kebun zaitunnya. Pada bulan Juli, aktivis dan konsultan No Other Land, Awdah Hathaleen, ditembak mati oleh pemukim Israel di desa Umm al-Khair. Hathaleen dikenal sebagai tokoh perlawanan non-kekerasan terhadap kekerasan pemukim.
Ballal menyebut serangan-serangan ini sebagai tindakan terorisme yang menjadikan warga Palestina di Masafer Yatta terus hidup dalam ketakutan berat. Ia menegaskan bahwa mereka hanya ingin merasa aman di rumah mereka, sebuah hak simpel yang kerap diabaikan.
Pelaksanaan hukum internasional dinilai tidak efektif melindungi warga Palestina, namun Ballal menegaskan bahwa sebagai manusia, mereka tetap berhak untuk hidup dan merasa aman. Konflik yang makin meningkat di Masafer Yatta menjadi gambaran nyata dari dinamika kekerasan dan perjuangan hak atas tanah yang berlangsung berkepanjangan di Tepi Barat.
