Dukungan akar rumput kini menjadi kunci utama oposisi Hungaria dalam menghadapi pemilu yang akan menentukan arah politik negara itu. Gerakan ini dipimpin Peter Magyar melalui partai TISZA, yang berusaha menantang dominasi panjang Perdana Menteri Viktor Orban dengan mengandalkan relawan, jaringan lokal, dan kampanye dari mulut ke mulut.
Strategi itu tumbuh di tengah kelelahan publik terhadap sistem politik Orban yang sudah berjalan selama 16 tahun. Di banyak kota kecil, termasuk Jaszfenyszaru di Hungaria tengah, tanda-tanda perubahan mulai terlihat ketika warga yang sebelumnya diam kini lebih terbuka berbicara tentang pilihan politik mereka.
Relawan menjadi wajah baru oposisi
Salah satu contoh paling menonjol datang dari Krisztina Menczel, seorang ahli kecantikan berusia 41 tahun yang kini aktif membantu kampanye TISZA. Ia menghabiskan hingga tiga jam per hari untuk berkampanye sekaligus mengelola akun media sosial lokal partai itu.
Menczel mengaku keputusan itu muncul setelah Magyar berkunjung ke kotanya pada tur nasional yang hampir tanpa henti. Ia menilai pendekatan langsung ke warga memiliki dampak besar karena bahkan penduduk yang biasanya enggan mengungkapkan sikap politik akhirnya mau berbincang.
Kemunculan relawan seperti Menczel menunjukkan perubahan penting dalam perlawanan oposisi. Jika sebelumnya panggung politik Hungaria didominasi oleh mesin partai besar, kini TISZA bertumpu pada simpul-simpul relawan yang bergerak di tingkat komunitas.
TISZA bangun jaringan dari bawah
Setelah melonjak pada pemilihan Parlemen Eropa, Magyar meminta para pendukung membentuk kelompok-kelompok longgar yang disebut “TISZA islands”. Partai menyebut sekitar 4.000 kelompok telah terbentuk, termasuk di wilayah pedesaan yang selama ini dianggap jauh dari jangkauan oposisi lama.
Kelompok itu menggelar beragam kegiatan, mulai dari penggalangan amal, acara barbeku, hingga diskusi politik. Menurut analis politik Zoltan Lakner, keterlibatan pelaku usaha kecil dan menengah membuat gerakan ini tampak seperti “revolusi para pengusaha” yang lebih pragmatis daripada ideologis.
Pendekatan tersebut memberi TISZA ruang untuk membangun kepercayaan di daerah yang selama ini kuat mendukung Fidesz. Alih-alih mengandalkan iklan besar-besaran seperti partai berkuasa, TISZA meminta pendukungnya memasang tanda partai di rumah dan etalase toko.
Mengisi kekosongan di pedesaan
Di banyak desa dan kota kecil, oposisi lama dianggap gagal mempertahankan jaringan kerja lapangan yang konsisten. TISZA mencoba mengisi kekosongan itu dengan mengusung kandidat dari kalangan profesional lokal yang mereka anggap punya kredibilitas tinggi.
Dalam pemilihan pendahuluan partai, puluhan aktivis akar rumput terpilih sebagai kandidat, termasuk dokter dan tokoh masyarakat yang baru pertama kali masuk politik. Peneliti Bulcsu Zsiga dari Centre for Fair Political Analysis mengatakan figur lokal seperti itu membantu mengurangi kejenuhan publik terhadap politisi profesional.
Berikut faktor yang membuat strategi ini menonjol:
- Kehadiran relawan lokal yang akrab dengan komunitas.
- Kampanye langsung yang menjangkau warga di tingkat desa dan kota kecil.
- Kandidat dari kalangan profesional yang dianggap lebih dipercaya publik.
- Pemanfaatan media sosial untuk menutup keterbatasan akses media arus utama.
Namun, Zsiga juga menilai pengalaman politik yang minim bisa menjadi risiko. Karena itu, TISZA disebut berupaya menahan dampaknya, termasuk lewat kebijakan yang membatasi akses media terhadap para kandidatnya.
Bayang-bayang dominasi Fidesz masih kuat
Viktor Orban tetap memiliki modal politik besar, terutama lewat dominasi media dan pengaruhnya di banyak wilayah. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan pesan politik yang konsisten, dukungan lembaga, dan jaringan loyalis di daerah.
Tetapi kekuatan itu tidak lagi sepenuhnya utuh. Skandal pengampunan dalam kasus kekerasan terhadap anak yang mengguncang Hungaria disebut menjadi titik balik penting, terutama karena muncul di saat banyak warga sudah tidak puas dengan kondisi ekonomi dan tata kelola negara.
Zoltan Lakner mengatakan skandal tersebut membuat banyak pemilih merasa sudah cukup dengan sistem Orban. Dari situ, Magyar yang sebelumnya tidak memiliki mesin partai yang mapan berhasil melesat dan membawa TISZA menempati posisi kedua dalam pemilu Parlemen Eropa.
Harga yang harus dibayar para aktivis
Kampanye di pedesaan Hungaria tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah relawan menghadapi tekanan sosial, termasuk pemutusan hubungan pergaulan dan paparan publik atas identitas pribadi mereka.
Menczel mengatakan kerabat dekat seorang politisi Fidesz setempat berhenti datang ke salon miliknya setelah ia mengunggah foto bersama kandidat TISZA di media sosial. Kasus lain menimpa Eszter Somfai, seorang pedagang berusia 48 tahun, setelah alamat rumahnya tersebar daring usai kebocoran basis data internal partai yang memuat sekitar 200.000 detail pribadi pendukung.
Bagi banyak aktivis, risiko itu justru memperkuat tekad mereka. Mereka melihat kampanye sebagai upaya untuk mematahkan ketakutan yang selama ini membuat warga oposisi diam di komunitas yang didominasi Fidesz.
Di kota-kota kecil seperti Jaszfenyszaru, perubahan sikap publik menjadi ukuran penting. Jika lebih banyak warga berani menyatakan pilihan mereka secara terbuka, peluang oposisi untuk memperluas dukungan akan ikut meningkat menjelang pemungutan suara pada April 12.
