Pengalaman Gunung Everest Jadi Eksklusif: Amatir & Influencer Dilarang Demi Cegah Tragedi, Sampah, dan Keramaian Mematikan yang Membayangi Puncak Tertinggi Dunia

Pembatasan akses untuk pendaki amatir akan diterapkan di Gunung Everest sebagai langkah untuk mengatasi masalah kepadatan dan perilaku pendaki yang kurang bertanggung jawab. Regulasi baru mewajibkan pendaki untuk memiliki pengalaman menaklukkan gunung dengan ketinggian minimal 7.000 meter sebelum berusaha mencapai puncak Everest.

Kepadatan yang berlebihan di Everest sering menyebabkan kemacetan di jalur pendakian, menimbulkan risiko keselamatan dan masalah lingkungan, termasuk penumpukan sampah. Kondisi ini diperparah oleh tren extreme tourism dan influencer yang mempromosikan pendakian tanpa persiapan yang memadai.

Kasus pasangan asal Singapura yang membawa anaknya yang berusia empat tahun ke base camp Everest pada Mei menjadi sorotan, setelah anak tersebut mengalami gejala penyakit ketinggian akut dan harus diselamatkan menggunakan helikopter. Pasangan tersebut mengabadikan perjalanan mereka secara daring dan menuai kritik luas dari publik.

Seorang YouTuber asal Prancis, Inoxtag atau Inès Benazzouz, juga menimbulkan kontroversi setelah berhasil mencapai puncak dalam waktu satu tahun latihan dengan biaya lebih dari €1 juta. Aksinya dianggap mempromosikan aktivitas berbahaya kepada pengikut muda tanpa kesiapan fisik yang memadai.

Kasus meninggalnya pendaki berusia 59 tahun dari India yang berjuang menjadi orang Asia pertama dengan alat pacu jantung untuk mendaki Everest menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi oleh pendaki tanpa pengalaman dan kondisi tubuh yang kurang fit.

Aturan baru dari pemerintah Nepal mewajibkan setiap pendaki untuk menunjukkan bukti pernah mendaki gunung di Nepal dengan ketinggian minimal 7.000 meter. Himal Gautam, Direktur Departemen Pariwisata Nepal, menjelaskan pengalaman lokal akan membantu mengurangi kecelakaan. Pemerintah berharap pembatasan ini dapat mengurangi kepadatan di Everest sekaligus mendorong pendakian komersial di 462 gunung lain yang tersedia di Nepal.

Beberapa pakar, seperti pendaki asal Inggris Adriana Brownlee, mengkritik kebijakan ini karena dianggap berlebihan dan berpotensi memindahkan kepadatan ke gunung lain. Brownlee menyarankan agar syarat pendakian bisa diturunkan ke puncak 6.500 meter dengan tambahan persyaratan pengalaman pendukung dan pelatihan Sherpa.

Masalah kepadatan menjadi faktor utama tingginya angka kematian di Everest. Lebih dari 200 jenazah pendaki masih tertinggal di gunung ini dan sering dijadikan penanda rute. Pada musim pendakian 2019 yang sangat padat, 11 pendaki meninggal, termasuk Robin Haynes Fisher yang mengalami gangguan penyakit ketinggian saat turun dari puncak.

Kasus tragis lain termasuk meninggalnya Shriya Shah-Klorfine pada tahun 2012, seorang pebisnis asal Kanada yang kekurangan pengalaman teknis, dan meninggal akibat kondisi lelah dan kekurangan oksigen di jalur penurunan.

Rancangan undang-undang telah disahkan oleh Dewan Tinggi Nepal dan akan dibawa ke Dewan Perwakilan untuk disetujui sebelum pemilu bulan Maret. Setelah disahkan, undang-undang ini diperkirakan berlaku dalam tiga bulan dan mencakup ketentuan wajib asuransi, batas usia, persyaratan pengalaman, serta dana perlindungan lingkungan untuk membersihkan sampah di Himalaya.

Undang-undang baru juga memungkinkan pihak berwenang menyatakan pendaki hilang menjadi meninggal secara hukum setelah satu tahun. Kebijakan ini menandai babak baru dalam pengelolaan pendakian Everest dengan tujuan meningkatkan keselamatan, melindungi lingkungan, dan mengatur pendakian agar tidak didominasi oleh tren influencer yang kurang bertanggung jawab.

Terkait