Pembicaraan damai yang difasilitasi Amerika Serikat antara Rusia dan Ukraina kembali digelar di Jenewa dengan prospek kemajuan yang minim. Pertemuan ini merupakan putaran ketiga dan mengikuti serangan udara besar-besaran Rusia di Ukraina yang menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya.
Dalam serangan tersebut, pasukan Rusia meluncurkan sekitar 400 drone dan 30 rudal menghantam 12 wilayah, termasuk Odessa yang mengalami kerusakan parah pada infrastruktur listriknya. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa Ukraina juga meluncurkan 150 drone menyerang beberapa target di wilayah Rusia, termasuk sebuah kilang minyak yang terbakar.
Proses Negosiasi dan Sikap Para Pihak
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memperingatkan agar tidak terlalu berharap pada hasil signifikan dari pertemuan kali ini. Delegasi Rusia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, pembantu presiden yang dinilai sebagai sosok keras dan ideologis. Sementara itu, Ukraina diwakili oleh Rustem Umerov, penasihat keamanan nasional.
Delegasi AS yang bertindak sebagai mediator terdiri dari utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump. Pembicaraan yang direncanakan berlangsung hingga dua hari ini berharap dapat mengatasi perbedaan utama terkait wilayah yang disengketakan dan jaminan keamanan bagi Ukraina.
Kendala Utama dalam Pembicaraan
Sejak putaran-pertama di Abu Dhabi, kedua belah pihak belum bisa mencapai kata sepakat terkait wilayah di Donetsk dan Luhansk yang menjadi objek klaim Rusia. Kyiv menuntut adanya jaminan keamanan yang mencegah agresi lanjutan dari Moskow, termasuk penolakan terhadap kehadiran pasukan Barat di tanah Ukraina.
Presiden Zelensky menegaskan pentingnya tidak mengizinkan agresor mengambil wilayah apapun. Dia mendesak Amerika Serikat untuk lebih fokus menyelesaikan isu jaminan keamanan yang selama ini menjadi jalan buntu, terutama karena Rusia menginginkan zona demiliterisasi di Donbas sebagai bagian dari kesepakatan.
Rencana Damai yang Diusulkan Amerika Serikat
Rencana damai yang tengah didorong oleh pemerintahan Trump mengusulkan penarikan pasukan Ukraina dari sebagian wilayah Donbas yang disengketakan. Wilayah ini akan dibentuk menjadi zona ekonomi tanpa militer yang diminta oleh Rusia.
Kesepakatan awal dirintis pada pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Putin di Alaska, yang bertujuan mengakhiri konflik melalui kompromi wilayah dan jaminan keamanan ala NATO bagi Ukraina. Namun implementasi rencana tersebut hingga saat ini masih menghadapi hambatan besar dari kedua belah pihak.
Kondisi di lapangan yang terus dilanda serangan dan balasan membuktikan kompleksitas situasi, sehingga pembicaraan di Jenewa dipandang sebagai tambahan prosedur diplomatik tanpa indikasi perubahan signifikan. Meskipun demikian, peran mediator Amerika tetap krusial untuk memfasilitasi dialog yang dapat mengurangi ketegangan dan membuka peluang perdamaian.





