Dorongan untuk membuat mobil listrik lebih ringan kini menjadi soal keberanian, bukan sekadar teknik. William Li, pendiri, chairman, dan CEO Nio, menilai pengurangan bobot kendaraan energi baru adalah proyek rekayasa sistematis yang sangat kompleks di tengah tren mobil-mobil China yang justru semakin berat.
Li mengatakan bobot yang lebih ringan memang membawa nilai besar bagi pengguna. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaian itu menuntut kompromi pada konfigurasi, biaya, teknologi, definisi produk, dan kemampuan engineering yang matang.
Trade-off di balik bobot yang lebih ringan
Dalam wawancara dengan media lokal di Hefei, Anhui, Li menjelaskan bahwa pabrikan yang ingin mengejar jarak tempuh sangat jauh sering terdorong memilih baterai lithium iron phosphate berkapasitas besar. Pilihan itu memang mendukung jarak tempuh, tetapi juga menambah bobot kendaraan secara signifikan.
Li menyebut Tesla Model Y dan model-model Onvo relatif lebih efisien dalam hal lightweighting karena keduanya menunjukkan kehati-hatian dalam pemilihan baterai. Menurut dia, keputusan itu bergantung pada penilaian pabrikan terhadap skenario penggunaan nyata dari konsumen yang dituju.
Ia juga menyoroti bahwa upaya meringankan kendaraan menjadi jauh lebih mahal saat masuk tahap akhir pengembangan. Menurunkan bobot mobil listrik pintar dari 2 ton ke 1,9 ton masih tergolong mudah, tetapi pengurangan berikutnya menjadi semakin mahal per kilogram.
Saat riset dan pengembangan memasuki tahap sprint terakhir, biaya untuk mengurangi 1 kilogram bobot disebut mencapai sekitar 1.000 yuan atau sekitar 148 dolar. Angka itu menggambarkan mengapa efisiensi bobot bukan sekadar persoalan material, melainkan juga keputusan bisnis yang rumit.
Teknologi dasar jadi pembeda
Menurut Li, tantangan terbesar tidak berhenti pada trade-off produk. Pekerjaan yang lebih berat justru terletak pada kemampuan teknologi dasar untuk mewujudkan desain ringan tanpa mengorbankan fungsi penting.
Ia memberi contoh smart fuse yang tidak bisa diperlakukan seperti sekadar mengganti komponen pada mobil konvensional. Penerapan teknologi itu menuntut desain ulang arsitektur tegangan tinggi dan tegangan rendah, serta koordinasi rumit antar-subsistem.
Bagi Li, pabrikan dengan kemampuan engineering yang kuat lebih mampu menghindari kondisi “pemakaian material berlebihan tanpa manfaat keselamatan yang nyata.” Ia menilai desain ringan yang baik bukan hanya menghemat sumber daya, tetapi juga meningkatkan performa handling kendaraan.
Pesan itu mengemuka saat sub-merek Nio, Onvo, meluncurkan versi terbaru L60, SUV listrik menengah, di Hefei. Dalam acara tersebut, Li menekankan penggunaan material ringan berkekuatan tinggi dan paket baterai ultra-tipis generasi baru pada model itu.
Gejala “obesitas” di industri otomotif China
Seruan Nio datang saat industri otomotif China menghadapi apa yang disebut krisis “obesitas” kendaraan. CCTV melaporkan bahwa rata-rata bobot kosong mobil penumpang baru di China melonjak menjadi 1.704 kilogram pada 2024, naik hampir 400 kilogram dibanding 2012.
Laporan itu juga menyebut kenaikan bobot mobil penumpang dalam empat tahun terakhir bahkan melampaui total kenaikan delapan tahun sebelumnya. Peralihan ke elektrifikasi dan naiknya ekspektasi konsumen disebut menjadi dua faktor utama yang mendorong bobot kendaraan terus bertambah.
Untuk memenangkan persaingan pasar, banyak pabrikan menjadikan jarak tempuh 800 kilometer bahkan 1.000 kilometer dalam sekali pengisian sebagai nilai jual utama. Menurut seorang pakar industri yang dikutip CCTV, strategi itu menuntut pemasangan paket baterai besar dengan bobot sekitar 700 hingga 800 kilogram di dalam kendaraan.
Di tengah tren itu, Onvo menonjolkan hasil perakitan yang lebih ringan pada L60 versi terbaru. Li mengatakan koefisien lightweight model itu turun menjadi 2,22, sementara varian rear-wheel-drive memiliki bobot kosong 1.885 kilogram.
Li menyebut bobot tersebut umumnya lebih ringan lebih dari 300 kilogram dibanding model listrik murni di kelas yang sama. Bagi Nio, angka itu menjadi bukti bahwa efisiensi bobot masih mungkin dikejar, asalkan pabrikan berani memilih kompromi teknis yang tepat dan memiliki fondasi engineering yang kuat.
Source: cnevpost.com






