Rahima Alavi Berjuang Lawan Larangan Kerja Wanita Taliban dengan Butik Bordir Mewarnai Bamiyan yang Hampir Padam

Author: Qoo Media

Sebagai satu-satunya wanita yang berhasil membuka butik bordir di Bamiyan, Rahima Alavi membawa semangat baru bagi komunitas yang tengah menghadapi tantangan berat. Di tengah larangan bekerja bagi perempuan di Afghanistan, butik kecil ini menjadi sumber kebanggaan dan harapan terutama bagi wanita setempat.

Rahima, berusia 22 tahun, membuka tokonya pada Januari setelah mencari pekerjaan selama berbulan-bulan. Dengan tulisan “Bunga musim semi, menjahit, dan bordir” di depan toko kecilnya, butik ini menawarkan karya bordir rumit yang dibuat dengan mesin jahit dan tangan terampilnya.

Alavi membantu keluarganya, termasuk orang tua dan tiga saudara perempuannya, dengan pendapatan dari butik yang juga membiayai sewa toko. Dia menunjukkan keterampilan barunya dengan membuat daun dan bunga sutra yang halus dari kain di tokonya.

Setelah kembali ke Afghanistan pada 2024, Alavi mengalami kesulitan mencari pekerjaan sebab hanya satu persen wanita pengungsi yang kembali mampu mendapatkan pekerjaan penuh waktu. Program pelatihan bordir yang didukung oleh UNHCR memberinya peluang untuk belajar dan membuka usaha baru.

Pelatih bordir Alavi, Rayhana Darabi, menggambarkan Rahima sebagai sosok yang sangat berbakat dan rajin. Meskipun program pelatihan terhenti akibat pemotongan bantuan internasional, Rahima terus mengembangkan bisnisnya dengan dukungan sahabatnya.

Bamiyan, tempat tinggal Rahima, adalah provinsi pedesaan tempat dia tumbuh besar dan membantu keluarganya bertani. Keputusan keluarga bermigrasi ke Iran pada 2021 untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, terutama bagi perempuan, mencerminkan kondisi ekonomi serta aturan ketat di Afghanistan saat ini.

Larangan Taliban terhadap perempuan bekerja secara luas menyisakan sedikit pilihan, dan mayoritas perempuan hanya bisa mengandalkan sektor kerajinan tangan. Rahima sangat berharap program pelatihan bordir kembali diaktifkan agar lebih banyak wanita bisa mengembangkan keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan.

Berikut beberapa fakta penting terkait kondisi perempuan pengungsi yang kembali ke Afghanistan berdasarkan survei Organisasi Internasional untuk Migrasi:
1. Hanya 1% wanita yang kembali mampu mendapatkan pekerjaan penuh waktu.
2. Sekitar 2% wanita menjalankan bisnis kecil.
3. Program pelatihan keterampilan menjadi satu-satunya harapan bagi banyak perempuan.

Dana yang dibutuhkan oleh UNHCR untuk mendukung pengungsi dan penduduk yang kembali di Afghanistan mencapai 216 juta dolar tahun ini, tetapi tingkat pendanaannya baru sekitar delapan persen. Hal ini mengancam kelangsungan program pelatihan dan dukungan yang sangat dibutuhkan di lapangan.

Rahima mendorong sesama wanita agar tidak menyerah dan terus mencari peluang yang ada. Dia menegaskan pentingnya peran aktif wanita dalam kehidupan ekonomi meskipun menghadapi pembatasan ketat. Butiknya yang menampilkan karya bordir seperti syal dan pakaian berhias gambar kupu-kupu menunjukkan bahwa keindahan dan kemandirian mampu tumbuh dalam keterbatasan sosial dan ekonomi.

Kisah Rahima Alavi menggambarkan kecerdikan dan keteguhan hati perempuan Afghanistan dalam merespon kesulitan. Dengan dukungan yang tepat, usaha kecil seperti butik bordir ini dapat membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan perempuan di Bamiyan dan wilayah lain.

Terbaru