Leila Shahid, diplomat Palestina yang dikenal sebagai wanita pertama yang mewakili Palestina secara diplomatik di luar negeri, meninggal dunia di Prancis pada usia 76 tahun. Kabar kematiannya disampaikan keluarga dan memicu berbagai penghormatan dari tokoh-tokoh Palestina serta komunitas internasional.
Shahid wafat di kediamannya di wilayah selatan Prancis, seperti dikutip dari keluarga melalui surat kabar Le Monde. Saudarinya, Zeina, mengonfirmasi berita tersebut tanpa memberikan keterangan lebih jauh. Banyak diplomat dan rekan sejawat memuji dedikasi dan perjuangan Shahid dalam membela kemerdekaan Palestina.
Karir Diplomatik dan Peran Historis
Dilahirkan di Beirut pada 1949, Leila Shahid menempuh pendidikan di American University of Beirut, tempat dia bertemu dengan pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Sebelum terjun ke diplomasi, ia aktif bekerja di kamp pengungsi Palestina di Lebanon. Pada 1989, ia menjadi wanita Palestina pertama yang bertugas sebagai diplomat di luar negeri, dimulai dengan penempatan di Irlandia, kemudian di Belanda dan Denmark.
Shahid menjalani karir panjangnya sebagai duta besar Palestina untuk Prancis selama lebih dari satu dekade, dari 1994 hingga 2005. Setelah itu, dia juga menjabat sebagai perwakilan Palestina untuk Uni Eropa, Belgia, dan Luksemburg. Kepemimpinannya memperkuat suara Palestina di dunia berbahasa Perancis.
Pengakuan dan Penghormatan dari Rekan Diplomatik
Hala Abou-Hassira, Dubes Palestina untuk Prancis, menyebut Shahid sebagai "ikon yang tak tergantikan" yang meninggalkan warisan besar dalam perjuangan keadilan. Majed Bamya, wakil misi Palestina di PBB, mengenangnya sebagai "suara keadilan, kebebasan, dan perdamaian" yang menginspirasi generasi diplomat muda.
Dubes Palestina di Inggris, Hussam Zumlot, menggambarkan Shahid sebagai sosok panutan yang membawa perjuangan rakyatnya dengan penuh keyakinan dan dedikasi tak tergoyahkan.
Pandangan dan Komitmen Kemanusiaan
Dalam wawancara dengan France24, Shahid menyambut baik pengakuan resmi Prancis terhadap negara Palestina. Ia menilai pengakuan itu bukan sekadar simbolis, melainkan pengingat dunia akan hak menentukan nasib sendiri rakyat Palestina. Namun, Shahid juga menegaskan perlunya usaha yang lebih besar untuk mengubah kondisi di lapangan, terutama menyangkut kekerasan dan pendudukan militer Israel yang berlangsung sejak 1967.
Dia menyuarakan keprihatinan atas kondisi warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat, yang menghadapi serangan brutal serta pendudukan panjang, sehingga mustahil bagi Palestina untuk membangun negara merdeka di bawah tekanan tersebut.
Warisan dan Pengaruh Perjuangan
Kematian Leila Shahid disikapi sebagai kehilangan besar saat Palestina tengah menghadapi masa-masa sulit. Hala Abou-Hassira menegaskan komitmen untuk melanjutkan perjuangan yang selama ini telah dijalankan Shahid. Kata-kata Shahid yang menuntut martabat, keadilan, dan kebenaran akan terus menjadi panduan bagi pejuang Palestina berikutnya.
Leila Shahid bukan hanya diplomat Palestina, tapi simbol perjuangan dan aspirasi rakyat Palestina di kancah internasional. Dedikasi dan keteguhan hatinya sepanjang hidup menjadi teladan bagi para diplomat dan aktivis yang memperjuangkan keadilan bagi bangsa yang terjajah.





