Valerii Zaluzhnyi, mantan kepala tentara Ukraina yang kini menjabat sebagai duta besar Ukraina untuk Inggris, dianggap sebagai pesaing politik utama Presiden Volodymyr Zelenskyy. Meski menolak membicarakan ambisi politiknya secara terbuka, Zaluzhnyi mengungkap adanya ketegangan mendalam antara dirinya dan Zelenskyy sejak awal perang dengan Rusia.
Ketegangan itu muncul tak lama setelah invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022. Zaluzhnyi mengatakan, perselisihan antara dia dan Zelenskyy sering terjadi terkait strategi pertahanan negara. Hubungan keduanya mencapai titik kritis saat puluhan agen dari Badan Keamanan Ukraina (SBU) melakukan penggeledahan di kantor Zaluzhnyi pada akhir 2022. Zaluzhnyi menilai penggeledahan tersebut sebagai bentuk intimidasi.
Namun, SBU membantah pernah melakukan penggeledahan itu di kantor Zaluzhnyi. Mereka mengakui hanya menyelidiki alamat yang sama terkait kasus kriminal yang tidak berhubungan dengan Zaluzhnyi. Selain itu, Zelenskyy dan pihak terkait enggan memberikan komentar atas insiden tersebut. Hal ini menimbulkan keraguan dan kontroversi di masyarakat Ukraina yang tengah menghadapi masa kritis perang.
Penggeledahan itu memicu konflik serius di dalam pemerintahan Ukraina. Zaluzhnyi bahkan memberi peringatan kepada Kepala Staf Zelenskyy bahwa dia siap mengerahkan militer untuk melindungi pusat komando tersebut. “Saya siap berperang dengan Anda dan sudah memanggil bala bantuan ke pusat Kyiv,” ujar Zaluzhnyi. Meskipun krisis ini mereda, ketidaksepahaman mereka terkait taktik militer tetap berlanjut.
Salah satu sumber utama ketegangan adalah kegagalan ofensif balik Ukraina pada 2023. Zaluzhnyi menilai rencana yang dirancang bersama mitra NATO tidak didukung sumber daya memadai karena menolak konsentrasi kekuatan militer yang cukup besar. Rencana awal bertujuan membebaskan wilayah Zaporizhzhia, tempat lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir penting, dan mengakhiri jalur suplai Rusia ke Crimea secara efektif.
Namun, menurut Zaluzhnyi, pasukan Ukraina justru tersebar di wilayah luas, sehingga kemampuan serangannya melemah. Informasi ini diperkuat oleh dua pejabat pertahanan Barat yang tidak ingin disebutkan namanya. Pada Februari, Zaluzhnyi diberhentikan dari posisi kepala angkatan bersenjata dan kemudian ditunjuk sebagai duta besar di Inggris, langkah yang dianggap banyak analis untuk melemahkan pengaruh politiknya.
Meski demikian, Zaluzhnyi tetap mengkritik strategi perang Ukraina yang sangat bergantung pada pasukan dalam jumlah besar dan pengelolaan teknologi militer yang dianggapnya kurang efektif. Dia juga belum terlibat dalam pengambilan keputusan militer sejak pemecatannya. Namun, Zaluzhnyi menyatakan hubungan diplomatisnya dengan Zelenskyy tetap bersahabat saat bertemu beberapa kali.
Popularitas Zaluzhnyi sebagai calon pemimpin masa depan terus meningkat. Sebuah survei Ipsos menunjukkan dukungan sebesar 23% untuk Zaluzhnyi dibandingkan 20% untuk Zelenskyy. Banyak warga Ukraina melihat Zaluzhnyi sebagai sosok yang mampu membawa perubahan sistemik di negara ini. Beberapa analis politik menilai pemilih lebih memilih Zaluzhnyi juga sebagai bentuk kekecewaan terhadap kegagalan pemerintahan Zelenskyy.
Walaupun demikian, Zaluzhnyi tetap berhati-hati dan enggan mengangkat isu politik saat perang masih berlangsung. Dia menyatakan tidak ingin memecah belah persatuan nasional yang sangat penting bagi Ukraina menghadapi agresi Rusia. Sejauh ini, dia menegaskan belum melakukan langkah apapun untuk pencalonan politik sampai perang benar-benar berakhir.
Situasi ini menambah dinamika politik Ukraina di tengah keadaan perang yang penuh ketidakpastian. Ketegangan antara mantan petinggi militer dan Presiden masih menjadi perhatian, terutama ketika proses perdamaian dengan Rusia belum kunjung tercapai. Konflik internal ini menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi masa depan pemerintahan Ukraina serta strategi pertahanan nasional.
