Pimpinan OpenAI, Sam Altman, menegaskan perlunya regulasi yang mendesak terhadap kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan dalam KTT Dampak AI di New Delhi, yang membahas risiko dan peluang teknologi yang terus berkembang pesat ini.
Altman menyampaikan bahwa konsentrasi teknologi AI pada satu negara atau perusahaan dapat berujung pada kerugian besar. Ia menekankan bahwa regulasi diperlukan seperti halnya pada teknologi kuat lainnya agar pengembangan AI berjalan aman dan terkendali.
Urgensi Regulasi Global AI
Sejak lama, Altman mengajak agar ada pengawasan internasional terhadap AI. Namun, tahun lalu ia juga memperingatkan bahwa regulasi yang terlalu ketat bisa membuat Amerika Serikat tertinggal dalam persaingan AI global.
KTT yang keempat ini merupakan pertemuan terbesar dan pertama kali diadakan di negara berkembang. India sebagai tuan rumah berambisi mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan China dalam bidang AI.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyerukan agar AI didemokratisasi. Ia menegaskan AI harus menjadi alat inklusi dan pemberdayaan untuk seluruh manusia.
Dukungan Pemimpin Dunia dan Tantangan AI
Sekjen PBB, Antonio Guterres, turut menyuarakan bahwa AI harus dimiliki oleh semua orang. Ia menyerukan agar para pemimpin teknologi berkolaborasi mendukung dana global sebesar $3 miliar guna meningkatkan keahlian AI dan membuat akses teknologi lebih terjangkau.
Isu-isu kritis seperti pengaruh AI terhadap pasar kerja, penyebaran konten negatif, dan konsumsi energi tinggi oleh pusat data, menjadi perhatian para akademisi dan aktivis. Namun, janji-janji konkret dari pertemuan sebelumnya dan KTT ini masih diragukan akan menghasilkan kebijakan yang tegas.
Inisiatif dan Investasi Besar di Sektor AI
KTT ini juga menjadi ajang pengumuman sejumlah investasi besar. OpenAI bekerja sama dengan Tata Consultancy Services (TCS) membangun kapasitas pusat data AI berskala besar di India. Google mengumumkan rencana pemasangan kabel bawah laut dari India sebagai bagian dari investasi AI senilai $15 miliar.
Pembangunan pusat data AI yang membutuhkan listrik dan pendingin dalam jumlah besar menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan. Hal ini muncul di tengah tekad global untuk menurunkan emisi karbon demi mengatasi perubahan iklim.
Menurut riset Stanford, India naik ke posisi ketiga dalam kompetisi AI dunia tahun lalu. Meski demikian, para ahli menyatakan India masih harus berupaya keras untuk sejajar dengan Amerika Serikat dan China.
Tantangan Sosial dan Ekonomi AI di India
Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan terganggunya pasar kerja, terutama di sektor layanan pelanggan dan dukungan teknologi yang mempekerjakan jutaan orang. Mukesh Ambani, pemimpin Reliance Group, optimistis bahwa AI akan menciptakan lapangan kerja baru yang memerlukan keterampilan tinggi, bukan justru menghilangkan pekerjaan.
Para pemimpin dunia dan peserta KTT diperkirakan akan membuat pernyataan resmi mengenai pengelolaan teknologi AI dalam waktu dekat. Hal ini menjadi penting untuk menetapkan kerangka kerja yang menjaga manfaat teknologi sekaligus meminimalkan dampak negatifnya bagi masyarakat global.
