Turki tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim COP31, namun di saat yang sama, negara ini justru memperluas salah satu pembangkit listrik tenaga batu bara paling polutif di wilayahnya. Pembangkit listrik Afsin-Elbistan, yang terletak di provinsi Kahramanmaras, dikenal menghasilkan emisi besar dari pembakaran batu bara lignit yang sangat kotor.
Polusi udara di desa Cogulhan di kawasan Afsin sudah sangat parah. Debu halus menutupi kendaraan, pakaian, dan jalanan, mengganggu kualitas hidup warga dan terutama membahayakan kesehatan anak-anak. Kaddafi Polat, seorang warga setempat, mengungkapkan kecemasannya terhadap masa depan anak-anak yang setiap hari menghirup udara tercemar.
Pembangkit listrik bertenaga batu bara ini menyediakan daya sebesar 2.795 megawatt. Facilities tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu Afsin-Elbistan A yang dikelola swasta, dan Afsin-Elbistan B yang dikelola pemerintah. Rencana penambahan dua unit baru di Plant A memicu kekhawatiran dari para aktivis lingkungan.
Greenpeace Turki secara kritis menganggap kenyataan ini sebagai paradoks. Turki mengklaim ingin menjadi pemimpin iklim sejati dengan target nol emisi bersih pada 2053, tetapi terus meningkatkan investasi di sektor bahan bakar fosil, terutama batu bara. Data resmi menunjukkan batu bara masih menyumbang 33,6 persen dari total energi listrik tahun lalu.
Menteri Lingkungan Turki mencoba meredam kritik dengan mengatakan bahwa masalah energi tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi, yaitu bahan bakar fosil. Namun, para aktivis berargumen bahwa memperluas pembangkit listrik ini melanggar tujuan iklim nasional dan mengabaikan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Polusi dari kompleks pembangkit ini telah dikaitkan dengan sekitar 16.530 kematian dini akibat partikel berbahaya dan sulfur dioksida. Jika dua unit tambahan dibangun, diperkirakan akan ada tambahan 2.268 kematian prematur dan biaya kesehatan mencapai 88,4 miliar lira, meskipun teknologi penyaringan baru diterapkan.
Asosiasi dokter di Kahramanmaras menegaskan adanya dilema serius antara kebutuhan energi dan kesehatan publik. Penyakit seperti kanker, asma, dan penyakit paru kronis kini sering ditemui di komunitas yang tinggal di sekitar pembangkit. Aktivis setempat bahkan menyebutkan hampir tidak ada rumah yang bebas dari kasus kanker.
Standar polusi udara di daerah sekitar pembangkit sangat mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat PM10 pada level tahunan tercatat mencapai tiga kali batas maksimum menurut standar Turki yang sebesar 40 mikrogram per meter kubik. Rata-rata harian PM10 pun pernah mencapai 128,3 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui panduan Organisasi Kesehatan Dunia sebesar 15 mikrogram.
Masyarakat dianggap sudah kehilangan harapan. Eyup Kisa, warga berusia 62 tahun, menggambarkan betapa abu dari pembangkit terus-menerus menutupi desa, membuat langkahnya seperti berjalan di atas salju abu. Dia menegaskan jika perluasan pembangkit dilakukan, akibatnya akan sangat fatal bagi seluruh penduduk setempat.
Kasus di Turki ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan upaya global untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Sementara banyak negara mulai meninggalkan batu bara karena dampak buruknya terhadap iklim dan kesehatan, Turki justru memilih memperkuat infrastruktur yang menambah polusi dan gas rumah kaca. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesungguhan Turki dalam memimpin diskusi perubahan iklim di COP31.
