Agensi Intelijen Rusia SVR Kuasai Operasi Pengaruh Wagner di Afrika Menggandeng Jaringan Disinformasi dan Politik Strategis

Author: Qoo Media

Agen intelijen luar negeri Rusia, SVR, mengambil alih operasi pengaruh kelompok milisi Wagner di Afrika setelah kematian pendiri mereka, Yevgeny Prigozhin. SVR kini mengelola kampanye politik, ekonomi, dan disinformasi yang sebelumnya dijalankan Wagner.

Wagner dikenal sebagai kelompok milisi bayaran Rusia yang menggunakan metode brutal dan aktif di berbagai negara Afrika seperti Libya dan Mali. Kelompok ini juga terkenal melakukan operasi destabilisasi yang bertujuan memperkuat pengaruh Rusia di benua tersebut.

Setelah kematian Prigozhin dalam kecelakaan pesawat, Kementerian Pertahanan Rusia mencoba menggantikan Wagner di Afrika lewat kelompok payung bernama Africa Corps. Namun, operasi pengaruh yang menggerakkan propaganda dan pengaruh politik justru diambil alih SVR.

Menurut investigasi yang dilakukan oleh konsorsium media investigasi seperti Forbidden Stories dan All Eyes On Wagner, SVR menjadi otoritas utama yang menjalankan strategi propaganda yang dulu dikelola Wagner. Organisasi ini membangun jaringan pengaruh dengan menempatkan agen penting di posisi strategis dan merekrut sumber intelijen.

Hampir seratus konsultan bekerja untuk cabang pengaruh Wagner bernama Africa Politology atau The Company. Mereka aktif di berbagai negara termasuk Angola, Chad, Ghana, dan Sudan, serta menyebarkan disinformasi demi kepentingan Rusia.

Dokumen rahasia yang bocor mengungkap laporan operasi, rencana strategis, dan catatan aktivitas disinformasi yang berlangsung sepanjang tahun ini. Dokumen tersebut telah diverifikasi dan menunjukkan koordinasi yang erat antara SVR dengan layanan keamanan terkait di Rusia.

Sementara Kementerian Pertahanan memberi kendali atas misi keamanan di negara seperti Mali, SVR tetap menjadi penghubung penting terutama di Republik Afrika Tengah. SVR berperan menjaga kelancaran operasi Wagner di wilayah tersebut.

Di Mali, SVR bertugas menyediakan intelijen terkait rencana militer dan politik Prancis serta Amerika Serikat di wilayah Sahel. SVR juga mendukung diplomasi untuk pembentukan aliansi militer-politik baru yang melibatkan Mali, Burkina Faso, Niger, dan Guinea.

Negara-negara Sahel itu mengalami serangkaian kudeta militer yang menjauhkan hubungan dari bekas kekuatan kolonial, Prancis. Mereka bahkan membentuk blok tandingan bernama Alliance of Sahel States (AES) dengan dorongan strategi Rusia.

Para penyelidik menilai penciptaan AES sebagai kemenangan politik penting bagi Rusia. SVR menunjukkan keberhasilan signifikan dalam memanfaatkan kondisi ketidakstabilan dan kerentanan politik di wilayah Sahel.

Jaringan pengaruh ini dikelola dengan dukungan tim ahli hukum dan lobi yang berusaha mengarahkan pembuatan undang-undang sesuai kepentingan Rusia. Sekitar 7,3 juta dolar AS dialokasikan antara Januari hingga Oktober untuk membiayai operasi pengaruh ini.

Meski mendapat dana besar dan melakukan berbagai usaha, Rusia belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam mengubah komitmen politik menjadi bisnis yang menguntungkan di Afrika. Strategi Rusia dianggap sebagai permainan jangka panjang dengan hasil yang belum konsisten.

Operasi SVR mencerminkan upaya intensif untuk memperluas pengaruh geopolitik dan ekonomi Rusia di benua Afrika melalui jaringan intelijen dan kampanye disinformasi yang kompleks. Aktivitas ini terus dipantau mengingat dampaknya terhadap stabilitas regional.

Terbaru