Friedrich Merz Bertolak ke China untuk Perkuat Hubungan Dagang di Tengah Ketegangan Global dan Ambisi Politik Beijing

Kanselir Jerman Friedrich Merz akan melakukan kunjungan ke China pekan depan untuk menggelar pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping mengenai hubungan perdagangan antara ekonomi terbesar Uni Eropa dan kekuatan Asia tersebut. Juru bicara Merz, Sebastian Hille, menyebut kunjungan ini sebagai "pertanda baik" karena dijadwalkan pasca perayaan Tahun Baru Imlek.

Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi Merz ke China sejak menjabat sebagai Kanselir Mei lalu. Pada konferensi keamanan di Munich pekan lalu, diplomat utama China Wang Yi mengungkapkan harapan agar hubungan kedua negara dapat meningkat ke tingkat yang lebih tinggi dan bahwa Jerman diharapkan menjadi "jangkar stabilitas untuk hubungan strategis".

Agenda Kunjungan Merz di China

Merz dijadwalkan tiba di Beijing pada hari Rabu dan akan disambut dengan kehormatan militer oleh Perdana Menteri Li Qiang sebelum bertemu Presiden Xi Jinping untuk melakukan diskusi dan makan malam bersama. Selama dua hari kunjungannya, Merz juga akan mengunjungi Kota Terlarang serta pabrik Mercedes-Benz di Beijing.

Setelah Beijing, rombongan Merz akan melanjutkan perjalanan ke Hangzhou untuk bertemu dengan perusahaan robotika Unitree dan produsen turbin Jerman, Siemens Energy. Hille menambahkan bahwa delegasi Merz akan terdiri dari para pemimpin bisnis, meskipun nama perusahaan belum diumumkan.

Tantangan Perdagangan dan Persaingan Ekonomi

Pertemuan ini berlangsung pada saat yang kritis bagi Jerman, terutama bagi sektor otomotif dan perusahaan-perusahaan Jerman yang menghadapi persaingan ketat dari China. Hubungan ekonomi yang selama ini erat antara kedua negara mulai mengalami tekanan akibat berbagai isu seperti praktik perdagangan yang dianggap tidak adil, proteksionisme, serta persoalan pasokan mineral kritis.

Merz sendiri menyatakan bahwa Jerman, yang sangat bergantung pada ekspor, memerlukan hubungan ekonomi dengan berbagai negara di seluruh dunia. Namun, ia juga memperingatkan untuk tidak memiliki ilusi mengenai ambisi global China yang berbeda secara politik dan ideologis.

Isu Politik dan Hak Asasi Manusia

Dalam pidatonya di kongres partai CDU, Merz menekankan bahwa China melihat diri mereka sebagai kontradiksi langsung terhadap Amerika Serikat dan ingin mendefinisikan tatanan multilateral baru berdasarkan aturan mereka sendiri. Ia juga menyoroti bahwa Beijing memandang advokasi hak asasi manusia sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri China, khususnya terkait kebebasan berpendapat, beragama, dan kebebasan pers.

Hal ini diperkirakan akan menjadi bagian dari diskusi Merz selama pertemuan, menurut Hille yang menyatakan bahwa isu-isu sensitif tetap akan dibahas secara menyeluruh.

Peran China dalam Konflik Ukraina

Isu penting lainnya yang kemungkinan akan dibahas ialah perang di Ukraina, yang sudah memasuki tahun keempat sejak invasi Rusia secara besar-besaran. Jerman tetap menjadi pendukung kuat Kyiv, sementara China, yang memiliki hubungan erat dengan Rusia, menyatakan sikap netral tanpa secara tegas mengutuk agresi tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul juga telah melakukan kunjungan ke Beijing untuk mendesak pejabat China, termasuk Wang Yi, agar menggunakan pengaruhnya membantu mengakhiri konflik tersebut.

Kunjungan Merz ini menjadi langkah strategis bagi Jerman dalam menjalin hubungan ekonomi dan politik dengan China di tengah dinamika global yang terus berubah. Interaksi kedua negara diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan perdagangan sekaligus menyoroti isu-isu internasional yang kompleks.

Exit mobile version