Kashmiri Shawl Sellers Teror di India Harus Pilih Antara Keselamatan Atau Penghidupan yang Terancam

Penjual selendang Kashmir kini menghadapi dilema sulit antara menjaga keselamatan dan mempertahankan mata pencaharian mereka. Serangkaian serangan kebencian yang terjadi belakangan ini memaksa para pedagang ini untuk mengubah strategi penjualan dan menghindari beberapa wilayah di India.

Ayaz Ahmad, seorang pedagang selendang dari Kashmir berusia 28 tahun, kini aktif mengelola grup WhatsApp dengan sekitar dua puluh anggota untuk saling berbagi informasi dan memperingatkan daerah-daerah yang berisiko. Ia menyatakan keselamatan menjadi prioritas utama karena pelecehan dan serangan terjadi hampir setiap hari.

Serangan yang Memicu Ketakutan
Serangan terbaru yang viral adalah insiden yang menimpa Tabish Ahmad Ganie, seorang pemuda Kashmir berusia 18 tahun di Uttarakhand. Ia dianiaya dengan alat besi oleh seorang pemilik toko yang mengusirnya dengan alasan identitasnya sebagai Muslim Kashmir. Ganie mengalami luka serius, termasuk 12 jahitan dan patah tulang kaki, yang membuatnya tidak bisa berjalan.

Kasus seperti ini bukanlah satu-satunya. Sejak beberapa bulan terakhir, ratusan insiden serangan, ancaman, dan pelecehan terhadap pedagang dan pekerja migran Kashmir dilaporkan di berbagai negara bagian India. Banyak yang dianiaya secara fisik dan dipaksa meninggalkan tempat tinggal atau lokasi bisnisnya.

Latar Belakang Politik dan Sosial
Kenaikan sentimen anti-Muslim di India sejak pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa pada 2014 semakin mempersulit kehidupan kaum minoritas, khususnya Muslim Kashmir. Sikap permusuhan ini sering diperparah oleh retorika dari politisi-partai penguasa yang menuduh warga Kashmir sebagai ancaman keamanan dan agen asing.

Selain itu, pengambilan alih status otonomi khusus Kashmir oleh pemerintah pusat pada 2019 berdampak besar pada perekonomian daerah tersebut. Banyak pemuda Kashmir yang putus asa mencari penghidupan di luar kotanya karena pengangguran yang meluas, terutama di negara-negara bagian utara India.

Sulitnya Memilih Antara Pulang atau Bertahan
Pulangkan diri ke Kashmir bukan pilihan mudah karena kondisi ekonomi yang masih rapuh. Sebaliknya, bertahan dan mencari nafkah di luar wilayah Kashmir menghadirkan risiko tinggi terkena serangan. Bilal Ahmad, pedagang selendang yang pernah diserang karena menolak menyanyikan slogan nasionalis, memilih mengakhiri usahanya dan kembali ke kampung halaman karena takut akan keselamatan dirinya.

Bashir Ahmad, pedagang lain yang sempat mendapat perlakuan diskriminatif di Punjab, juga memilih kembali ke Kashmir. Ia bahkan menyarankan rekan-rekan sesama penjual untuk hanya beroperasi di wilayah yang sudah dikenal aman oleh komunitas mereka.

Kasus-Kasus Penganiayaan dan Diskriminasi
Beberapa insiden menyerukan perhatian lebih luas, seperti serangan dan pelecehan yang direkam dan disiarkan secara langsung oleh pelaku di media sosial. Contohnya adalah Surjeet Rajput Guleria, mantan tentara India yang secara terbuka menghina dan mengusir pedagang Kashmir di Himachal Pradesh dengan hinaan bermuatan kebencian agama dan seksual. Meskipun laporan polisi dibuat, tindakan tegas terhadapnya belum terlihat.

Selain pedagang selendang, migran Kashmir yang menjalankan bisnis lain, seperti Abdul Hakeem yang berjualan buah di Punjab, juga mengalami intimidasi hingga meninggalkan usahanya dengan kerugian besar.

Respons Politik dan Sosial
Partai politik utama di Kashmir, baik yang berkuasa maupun oposisi, telah meminta pemerintah pusat untuk menghentikan intimidasi dan kekerasan terhadap warga Kashmir di seluruh India. Omar Abdullah, Ketua Menteri Kashmir, menyatakan insiden tersebut “tidak bisa diterima” dan sudah membicarakannya dengan sesama kepala daerah.

Sementara itu, mantan pemimpin oposisi Mehbooba Mufti menuduh pemerintah negara bagian memberikan perlindungan terselubung kepada para pelaku kekerasan. Di sisi lain, juru bicara partai penguasa BJP menyatakan penolakan mereka terhadap tindakan kekerasan dan menegaskan warga Kashmir adalah bagian tak terpisahkan dari India.

Impak Sosial dan Ekonomi
Aktivis dan politisi lokal seperti Mohammad Yousuf Tarigami mengungkapkan keprihatinan akan pola serangan yang kian mengkhawatirkan ini. Ia menekankan bahwa intimidasi tersebut tidak hanya mengancam keselamatan individu, tapi juga berdampak serius pada ekonomi keluarga yang bergantung pada perdagangan musiman.

Fenomena ini menciptakan ketakutan yang meluas di kalangan masyarakat Kashmir yang merantau. Kondisi tersebut mempertegas bahwa ancaman terhadap pedagang selendang Kashmir bukan sekadar masalah kriminal, melainkan bagian dari isu sosial dan politik yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak terkait.

Panduan Keamanan bagi Pedagang Selendang Kashmir

  1. Membentuk jaringan komunikasi digital seperti grup WhatsApp untuk berbagi informasi tentang daerah yang aman dan berisiko.
  2. Menghindari daerah yang pernah terjadi insiden kekerasan atau intimidasi.
  3. Melaporkan kejadian serangan atau diskriminasi kepada pihak berwenang dan organisasi pendukung hak asasi manusia.
  4. Memperkuat solidaritas antar pedagang untuk mendukung keselamatan bersama.
  5. Mengutamakan keselamatan pribadi daripada mengejar keuntungan bisnis di wilayah berbahaya.

Situasi yang dihadapi pedagang selendang Kashmir di India memperlihatkan bagaimana identitas dan kondisi sosial-politik dapat mempengaruhi hak dan peluang ekonomi seseorang. Ketidakpastian keamanan memaksa mereka mengambil keputusan sulit antara tetap mencari nafkah di luar Kashmir atau kembali ke kampung halaman meskipun menghadapi kemiskinan dan pengangguran yang parah.

Terkait