Polisi Libya menemukan lima jenazah pencari suaka yang terdampar di pesisir dekat Tripoli. Penemuan ini terjadi di kota pesisir Qasr al-Akhyar oleh warga dan dikonfirmasi oleh pihak kepolisian setempat. Kepala penyelidikan di kantor polisi Qasr al-Akhyar, Hassan al-Ghawil, menyampaikan bahwa semua korban adalah orang berkulit gelap, termasuk dua perempuan. Warga juga melaporkan adanya mayat anak yang sempat terdampar sebelum hanyut kembali ke laut. Aparat setempat telah menghubungi Palang Merah untuk proses pengangkutan jenazah. Ghawil memperkirakan akan ada lebih banyak jenazah yang muncul di pantai.
Sementara itu, di Yunani, ketiga korban meninggal ditemukan setelah sebuah perahu kayu yang membawa imigran dan pencari suaka terbalik di lepas pantai Kreta. Sesuai laporan Athens News Agency, sebanyak 20 orang berhasil diselamatkan, mayoritas berasal dari Mesir dan Sudan, termasuk empat anak di bawah umur. Insiden ini terjadi saat penumpang mencoba menaiki tangga kapal komersial yang melakukan operasi penyelamatan. Pencarian korban selamat masih berlangsung menggunakan alat patroli laut, pesawat, serta dua kapal dari badan perbatasan Eropa, Frontex. Para penyintas melaporkan sekitar 50 orang berada di perahu tersebut saat kecelakaan terjadi.
Selain itu, ada laporan mengenai kapal karet yang membawa 55 orang terbalik di dekat Zuwara, Libya, menyebabkan sedikitnya 53 orang tewas atau hilang. Dalam sebulan terakhir, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat minimal 375 imigran meninggal atau hilang akibat sejumlah kejadian tenggelam yang tidak terlaporkan di wilayah Mediterania tengah. Kondisi cuaca ekstrem dan rute pelayaran berbahaya memperparah risiko bagi para migran. IOM menegaskan bahwa kecelakaan berulang ini menunjukkan betapa berbahayanya perjalanan yang ditempuh para migran dan pengungsi.
Libya telah menjadi jalur transit utama bagi penduduk yang melarikan diri dari konflik dan kemiskinan setelah kejatuhan rezim Muammar Gaddafi. PBB menyatakan migran di Libya, termasuk anak-anak perempuan, menghadapi risiko kekerasan berat, penyiksaan, hingga perbudakan domestik. Laporan tersebut menyarankan penghentian sementara pengembalian kapal migran ke Libya sampai kondisi hak asasi manusia membaik. Kebanyakan migran berusaha menuju Kreta sebagai pintu masuk ke Uni Eropa. Data UNHCR menyebutkan lebih dari 16.770 pencari suaka tiba di Kreta sepanjang tahun ini. Lonjakan jumlah pendatang menyebabkan pemerintah Yunani mengambil langkah menghentikan proses aplikasi suaka selama tiga bulan untuk kedatangan dari Libya.
UNHCR juga memperkirakan 107 orang meninggal atau hilang di perairan Yunani selama tahun ini. Tragedi ini menggambarkan tantangan dan bahaya besar yang dihadapi oleh para pencari suaka di rute Laut Mediterania. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh berbagai pihak, namun ancaman serius terhadap keselamatan migran tetap menjadi masalah yang belum teratasi secara penuh. Sementara itu, komunitas internasional terus didesak untuk memperkuat perlindungan dan solusi kemanusiaan di wilayah tersebut.







