Pakistan melakukan serangan udara di wilayah Afghanistan pada Minggu dini hari, menyasar "kamp dan tempat persembunyian" yang diyakini milik kelompok bersenjata yang terlibat dalam serangkaian serangan baru-baru ini, termasuk serangan bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad. Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyebut operasi tersebut bersifat “berdasarkan intelijen dan selektif,” menargetkan tujuh kamp milik Taliban Pakistan (TTP) beserta afiliasinya, serta kelompok ISIL-Khorasan (ISKP) yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di ibu kota.
Serangan ini memicu respons keras dari Kementerian Pertahanan Afghanistan yang mengutuk aksi serangan Pakistan karena menimbulkan korban tewas dan luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak, di provinsi perbatasan Nangarhar dan Paktika. Pemerintah Afghanistan menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan norma bertetangga yang baik. Pihak Afghanistan menegaskan akan memberikan “respon yang tepat” terhadap serangan tersebut di waktu yang sesuai.
Target dan Bukti Serangan Pakistan
Pakistan mengklaim memiliki “bukti kuat” bahwa serangan-serangan terbaru di Islamabad dan distrik Bajaur serta Bannu di barat laut, dilancarkan atas perintah pimpinan kelompok bersenjata yang berbasis di Afghanistan. Serangan udara menindak kelompok TTP dan ISKP yang dinilai sebagai ancaman utama keamanan Pakistan. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok yang beroperasi dari wilayah Afghanistan itu dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri di berbagai titik di Pakistan, termasuk insiden tragis di masjid Khadija Tul Kubra.
Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan bahwa serangan udara Pakistan menghantam sebuah sekolah agama dan pemukiman warga di wilayah perbatasan. Data lapangan dari distrik Bihsud, Nangarhar, mencatat sedikitnya 17 warga tewas dan enam lainnya hilang yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan. Selain itu, sebuah pusat keagamaan juga terkena dampak serangan tersebut dengan jumlah korban yang belum diketahui pasti.
Ketegangan Politik dan Masalah Perdamaian Regional
Insiden ini mengancam gencatan senjata rapuh yang telah dinegosiasikan antara Pakistan dan Afghanistan setelah bentrokan perbatasan yang menewaskan puluhan orang pada Oktober lalu. Pakistan menuding pemerintah Taliban di Kabul tidak mengambil tindakan serius untuk mencegah kelompok bersenjata menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis serangan. Islamabad menegaskan bahwa keselamatan warganya adalah prioritas utama dan mereka telah berulang kali mengingatkan Taliban mengenai komitmen dalam Perjanjian Doha agar tanah Afghanistan tidak dipakai untuk mengancam negara lain.
Pemerintah Taliban secara konsisten membantah memberikan perlindungan kepada kelompok bersenjata anti-Pakistan. Namun, ketegangan terus meningkat sejak bentrokan besar tahun lalu dan serangan ledakan di Kabul yang dianggap Afghan sebagai operasi Pakistan. Meski gencatan senjata yang dimediasi Qatar pada pertengahan Oktober cukup efektif, negosiasi lanjutan di Istanbul belum membuahkan kesepakatan formal.
Serangkaian Serangan Terbaru di Pakistan
Sebelum serangan udara Pakistan, sebuah bom bunuh diri menyerang konvoi keamanan di distrik Bannu, menewaskan dua tentara, salah satunya seorang letnan kolonel. Kemudian di Bajaur, sebuah kendaraan penuh bahan peledak menabrak pos keamanan, menyebabkan kematian 11 tentara dan satu anak kecil. Pelaku serangan Bajaur diketahui berstatus warga Afghanistan.
Pada awal bulan lalu, ledakan dahsyat terjadi di masjid Khadija Tul Kubra kala waktu salat zuhur, menewaskan sedikitnya 31 jamaah dan melukai 170 lainnya. ISKP mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut yang mengejutkan masyarakat karena kejadian serupa baru kedua kali terjadi dalam kurun waktu tiga bulan.
Seruan Pakistan kepada Komunitas Internasional
Kementerian Informasi Pakistan menyerukan agar komunitas internasional menekan Taliban agar memenuhi janji di Perjanjian Doha, yang menurut mereka penting untuk menjaga perdamaian dan keamanan regional serta global. Pemerintah Pakistan melihat operasi ini sebagai upaya menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi warganya dari ancaman terorisme yang terus meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kekerasan di Pakistan meningkat, banyak yang dikaitkan dengan aktivitas TTP serta kelompok separatis Baloch yang dilarang. Islamabad menuduh TTP beroperasi dari dalam Afghanistan, tuduhan yang selalu dibantah oleh TTP maupun pemerintah Taliban. Situasi ini mencerminkan kompleksitas hubungan kedua negara tetangga yang masih sarat dengan ketegangan dan konflik bersenjata.
