Sebuah kelompok tugas baru yang dipimpin militer AS berperan dalam perburuan terhadap Nemesio Oseguera, alias ‘El Mencho,’ pemimpin kartel narkoba terbesar di Meksiko. Kelompok ini, yang dikenal sebagai Joint Interagency Task Force-Counter Cartel (JITF-CC), diluncurkan bulan lalu dengan tujuan mengumpulkan intelijen dan memetakan jaringan kartel di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.
Menurut pejabat pertahanan AS yang berbicara secara anonim, JITF-CC memberikan informasi pendukung untuk operasi militer Meksiko yang akhirnya membunuh El Mencho di negara bagian Jalisco. Operasi ini murni dirancang dan dijalankan oleh militer Meksiko, tanpa keterlibatan langsung personel militer AS di lapangan, meskipun informasi komplementer dari AS turut membantu.
JITF-CC merupakan kolaborasi lintas lembaga pemerintah AS yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan intelijen untuk menggagalkan aktivitas kartel narkoba. Brigadir Jenderal Maurizio Calabrese, pemimpin JITF-CC, menjelaskan bahwa pengalaman militer AS melawan kelompok teroris seperti al Qaeda dan ISIS diadaptasi untuk memahami modus operandi kartel, meskipun motivasi dan struktur kartel berbeda signifikan.
Calabrese menjelaskan bahwa jaringan inti anggota kartel hanya terdiri dari beberapa ratus orang, tetapi mereka didukung oleh 200.000 hingga 250.000 kontraktor independen yang membantu distribusi narkoba. Keberadaan jaringan besar inilah yang menjadi tantangan utama dalam upaya memberantas kartel secara menyeluruh.
Selain mengandalkan intelijen militer, dukungan dari aparat penegak hukum dan komunitas intelijen AS juga penting dalam merumuskan proses operasi. Seorang mantan pejabat AS menyampaikan bahwa pemerintah AS telah menyusun paket target komprehensif untuk membantu pemerintah Meksiko menangkap El Mencho, termasuk data rahasia pemantauan dan penegakan hukum.
Operasi di Jalisco memicu gelombang kekerasan di beberapa wilayah Meksiko, termasuk pembakaran kendaraan dan blokade jalan oleh kelompok bersenjata. Meski demikian, kematian El Mencho dianggap sebagai kemenangan besar dalam perang melawan kartel yang bertanggung jawab atas penyelundupan narkoba bernilai miliaran dolar ke AS, terutama kokain dan fentanyl.
Presiden AS sebelumnya memberi tekanan kepada pemerintah Meksiko agar memperketat upaya penindakan terhadap kartel, termasuk ancaman intervensi langsung. Kebijakan terbaru termasuk penetapan kartel Meksiko sebagai organisasi teroris, yang membuka akses sumber daya militer AS yang lebih luas untuk operasi kontra-narkoba.
Kepala JITF-CC menyatakan bahwa langkah interagency ini bertujuan untuk menghilangkan tumpang tindih informasi dan kegiatan sehingga semua upaya bisa disinkronisasi secara efektif. Selain itu, operasi gabungan tersebut sejalan dengan strategi AS yang makin mengandalkan kendali operasional militer di perbatasan dan pengawasan aktif terhadap rute penyelundupan di perairan Karibia dan Pasifik.
Jack Riley, mantan pejabat tinggi DEA, menyebutkan bahwa kemampuan intelijen dan pengawasan militer AS bisa memberikan keunggulan signifikan dalam waktu nyata. Namun, tantangan terbesar tetap pada kecanggihan kartel dalam menyembunyikan kepemimpinan dan aktivitas mereka.
Secara keseluruhan, pembentukan dan peran JITF-CC menjadi indikator bahwa AS semakin serius mengintensifkan perjuangan melawan kartel narkoba lintas negara. Kolaborasi intelijen dan operasi militer gabungan diprediksi akan terus berperan kunci dalam upaya mengurangi dampak kejahatan narkoba yang kompleks dan berbahaya ini.
