Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat, Jamieson Greer, menyatakan bahwa sejauh ini tidak ada negara mitra dagang yang berniat menarik diri dari kesepakatan tarif dengan AS setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Greer menyebutkan bahwa sejumlah negara masih ingin melihat bagaimana perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan apa pun.
Greer juga mengonfirmasi telah berkomunikasi dengan pejabat dari Uni Eropa dan akan berbicara dengan wakil negara lain terkait dampak keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa semua pihak menghendaki kelanjutan kesepakatan dagang yang telah disepakati bersama.
Respons AS terhadap putusan Mahkamah Agung
Setelah putusan Mahkamah Agung yang menolak program tarif sebelumnya berdasarkan undang-undang keadaan darurat ekonomi, Presiden Trump langsung memberlakukan tarif sementara sebesar 10 persen pada berbagai produk impor. Keputusan ini kemudian dinaikkan menjadi 15 persen, yang merupakan batas maksimal menurut hukum. Greer menilai langkah cepat ini mencerminkan urgensi untuk mengatasi defisit perdagangan AS yang besar dengan mitra dagang lainnya.
Greer menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen pada kesepakatan tarif yang telah disepakati dengan Uni Eropa dan mitra lainnya, dan mengharapkan kesepakatan ini dipertahankan oleh semua pihak.
Kekhawatiran Uni Eropa dan Mitra Dagang
Uni Eropa merespon dengan sikap tegas dan menuntut AS untuk mematuhi ketentuan dalam kesepakatan dagang yang dicapai sebelumnya. Dalam pernyataannya, Komisi Eropa menekankan pentingnya transparansi penuh dari AS mengenai langkah-langkah yang akan diambil menyusul putusan pengadilan.
Kesepakatan dagang AS-Uni Eropa menetapkan tarif impor AS sebesar 15 persen untuk sebagian besar barang dari UE, dengan pengecualian untuk produk tertentu seperti pesawat terbang dan suku cadang. Sebagai imbalannya, UE setuju untuk mengurangi tarif impor atas produk-produk AS, meskipun beberapa perubahan tersebut belum sepenuhnya diimplementasikan.
Langkah Pemerintah AS Menghadapi Tantangan Baru
Greer menjelaskan bahwa pemerintah AS akan menata ulang kebijakan tarifnya dengan menggunakan alat-alat hukum lain, seperti Seksi 301 dan Seksi 232 dari undang-undang perdagangan, yang telah terbukti tahan terhadap tantangan hukum. Saat ini, ada investigasi yang sedang berjalan terhadap Brasil dan Tiongkok di bawah Seksi 301.
Selain itu, ada rencana penyelidikan baru terkait kapasitas industri berlebih di beberapa negara Asia dan praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dalam sektor beras, yang disubsidi secara besar-besaran oleh beberapa negara.
Proyeksi Pertemuan Puncak AS-Tiongkok
Meskipun dinamika tarif yang berubah, Greer memperkirakan bahwa putusan Mahkamah Agung dan perubahan tarif tidak akan mengganggu pertemuan yang dijadwalkan antara Presiden Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Tujuan pertemuan tersebut lebih menitikberatkan pada menjaga stabilitas hubungan dagang dan memastikan komitmen Tiongkok untuk memenuhi kesepakatan pembelian produk AS seperti pertanian dan pesawat terbang.
Pendapatan Tarif dan Tindak Lanjut Hukum
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa masalah pengembalian dana tarif akan ditangani oleh pengadilan tingkat bawah dan proses ini kemungkinan memakan waktu beberapa minggu hingga bulan. Ia juga menegaskan bahwa pendapatan dari tarif diperkirakan tetap stabil mengingat kemungkinan penerapan tarif baru berdasarkan penyelidikan-penyelidikan terbaru.
Bessent menambahkan bahwa mitra dagang AS menyukai kesepakatan tarif yang ada dan tidak merencanakan perubahan terhadap perjanjian tersebut.
Daftar poin penting terkait kebijakan tarif AS saat ini:
- Tidak ada mitra dagang yang berencana menarik diri dari kesepakatan tarif dengan AS.
- Tarif sementara AS dinaikkan menjadi 15 persen sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung.
- Pemerintah AS menggunakan instrumen hukum lain seperti Seksi 301 dan Seksi 232 untuk penegakan kebijakan dagang.
- Uni Eropa menuntut kepastian dan kejelasan dari AS terkait langkah lanjutan.
- Investigasi tentang praktik perdagangan tidak adil dan kapasitas industri berlebih sedang berlangsung atau direncanakan.
- Pertemuan puncak AS-Tiongkok diproyeksikan berjalan tanpa pengaruh signifikan dari perubahan tarif.
- Proses hukum terkait pengembalian tarif akan berlangsung di pengadilan tingkat bawah dalam waktu dekat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpastian hukum dan perubahan tarif, hubungan dagang AS dengan mitra utamanya masih bertahan pada kesepakatan yang telah disepakati. Pemerintah AS tampak berusaha menjaga stabilitas perdagangan internasional sambil menyusun kebijakan baru yang sesuai dengan kerangka hukum yang berlaku.





