Ribuan Mahasiswa Iran Berunjuk Rasa Saat Kampus Dibuka Kembali di Tengah Ketegangan Politik dan Represi Militer

Ribuan mahasiswa Iran kembali menggelar unjuk rasa saat universitas-universitas di Tehran dan berbagai wilayah lain dibuka kembali setelah kerusuhan nasional yang menewaskan banyak orang. Demonstrasi terjadi tepat satu bulan setelah aksi protes besar-besaran yang dimulai pada awal Januari, yang melibatkan korban tewas dalam jumlah besar terutama pada malam-malam saat pemerintahan mengunci komunikasi.

Kampus-kampus bergengsi di ibu kota seperti Universitas Tehran, Universitas Teknologi Sharif, Universitas Amirkabir, dan Universitas Shahid Beheshti menjadi pusat utama aksi protes mahasiswa. Bentrok pecah antara mahasiswa yang menentang rezim dengan pendukung negara teokratis, termasuk mereka yang berafiliasi dengan organisasi paramiliter Basij dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pengamanan ketat oleh aparat bersenjata juga terlihat di luar beberapa universitas, termasuk insiden kekerasan saat polisi menolak masuknya mahasiswa ke Universitas Tehran.

Situasi di Berbagai Wilayah dan Reaksi Masyarakat

Di Universitas Ferdowsi di Mashhad, pusat keagamaan Syiah di timur laut negara, mahasiswa juga melancarkan protes yang berujung pada pengejaran oleh aparat keamanan di dalam kampus. Sementara itu, di desa Abdanan, provinsi Ilam, penduduk berkumpul untuk menyambut guru pensiunan yang baru saja dibebaskan setelah ditangkap paksa pekan sebelumnya. Penangkapan dan penahanan massal masih terus berlangsung, dengan puluhan ribu pelajar dan mahasiswa yang diamankan sejak pecahnya protes nasional, meski pemerintah enggan mengumumkan angka resmi.

Perbedaan Narasi Pemerintah dan Mahasiswa

Gambaran aksi di universitas juga berbeda drastis antara laporan media pemerintah dan rekaman yang beredar luas di internet. Media negara menampilkan mahasiswa Basij yang mendapat izin resmi melakukan aksi bakar bendera Amerika Serikat dan Israel di sejumlah titik kampus. Mereka meneriakkan seruan seperti “Matilah Amerika,” “Matilah Shah,” serta slogan yang mengacu pada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Media resmi menyatakan bahwa pelajar pendukung rezim “menghormati korban kerusuhan yang didukung asing.”

Sebaliknya, kelompok mahasiswa penentang rezim mengusung slogan seperti “Matilah diktator,” “Perempuan, kehidupan, kebebasan,” dan “Darah yang tumpah tidak akan pernah hilang.” Video-video di media sosial menunjukkan mahasiswa mengangkat bendera Iran pra-revolusi 1979 yang bergambar singa dan matahari, sebagai simbol dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mantan shah yang didukung Amerika Serikat. IRGC secara resmi mengklaim tindakan tersebut sebagai upaya manipulasi media asing anti-Iran.

Para demonstran pro-rezim juga menuduh kelompok anti-pemerintah bertanggung jawab atas kekacauan di Januari lalu dan bahkan merayakan kematian para korban. Slogan seperti “Mereka membuat Januari berdarah dan menari karenanya” disuarakan oleh mahasiswa Basij dalam media pemerintah, yang merujuk pada beragam keluarga kehilangan anggota saat protes berlangsung.

Kontroversi Jumlah Korban dan Keterbukaan Pemerintah

Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 3.117 orang tewas dalam kerusuhan, dengan semua korban disebut sebagai “teroris” dan “perusuh” yang didukung, dilatih, dan didanai oleh Amerika dan Israel. Tuduhan ini ditolak secara keras oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi hak asasi internasional, yang menyimpan bukti pelanggaran oleh aparat negeri. Pemerintah juga menolak pengiriman tim pencari fakta independen PBB dan memperpanjang pembatasan internet hingga pekan ketujuh.

Berbagai organisasi hak asasi yang berbasis di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa jumlah kematian jauh lebih besar. Human Rights Activists News Agency (HRANA) memverifikasi lebih dari 7.000 kematian selama protes, dan terus mendalami sekitar 12.000 kasus lain. Pelapor khusus PBB untuk hak asasi di Iran, Mai Sato, memperkirakan korban sipil dapat mencapai lebih dari 20.000 jiwa. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut angka kematian mencapai 32.000 orang.

Kondisi di Lapangan dan Dampak terhadap Pendidikan

Tekanan di lingkungan akademis tetap tinggi dengan adanya bentrokan intens dan pengawasan ketat dari aparat keamanan. Selain mahasiswa, sekolah-sekolah dasar hingga universitas menjadi lokasi penangkapan dan kekerasan, memperlihatkan betapa seriusnya pemerintah dalam mengendalikan ruang pendidikan dari pengaruh demonstran. Di tengah situasi ini, masyarakat Iran terus berjuang untuk mengenang dan menghormati para korban dengan berbagai bentuk peringatan yang melanggar norma negara.

Dengan latar belakang ketegangan politik dan ancaman konflik eksternal yang masih membayangi, dinamika di universitas-universitas ini menjadi indikator penting dalam situasi sosial dan politik yang terus bergerak di Iran. Aksi mahasiswa dan reaksi pemerintah pun memperlihatkan kontras tajam dalam persepsi dan penanganan isu-isu krusial terkait kebebasan, keadilan, serta hak asasi manusia di tengah tekanan rezim teokratis.

Terkait