Selat Hormuz Ditutup Lagi, Damai Iran-AS Makin Sulit Gara-Gara Israel

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bertemu delegasi Iran di Swiss untuk membahas jalur damai yang sebelumnya sudah disepakati lewat nota kesepahaman. Namun, perundingan itu langsung memanas setelah Iran kembali memblokade Selat Hormuz dan menolak membicarakan program nuklir sebelum serangan di Lebanon mereda.

Langkah Teheran membuat isu pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial dalam diplomasi yang sedang dibangun. Di saat yang sama, Iran menilai Washington gagal menahan agresi Israel di Lebanon, sehingga peluang tercapainya kesepakatan damai tampak makin sempit.

Selat Hormuz kembali jadi kartu tekanan Iran

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu inti kesepakatan damai yang dibahas kedua pihak. Jalur ini sangat strategis karena menjadi rute penting bagi arus pelayaran dan pasokan energi global.

Iran memilih menutup kembali selat itu setelah tidak melihat tanda nyata berakhirnya pertempuran di Lebanon. Menurut informasi yang dikutip dari Reuters, Teheran juga menegaskan bahwa negosiasi tahap berikutnya, termasuk soal masa depan program nuklir, tidak akan dimulai sebelum situasi di Lebanon membaik dan kompensasi ekonomi yang dijanjikan diberikan.

Pemerintah AS sempat membantah adanya pemblokadean total. Washington menyebut masih ada 55 kapal dagang yang berhasil melintas pada hari Sabtu.

Namun, kantor berita Iran Fars mengutip sumber militer yang mengatakan otoritas Teheran menghentikan penerbitan izin pelayaran baru untuk kapal komersial tanpa batas waktu yang jelas. Data pelacakan kapal independen juga menunjukkan tidak ada lagi kapal yang membagikan koordinat posisi saat melewati selat itu, kecuali armada yang menuju pelabuhan internal Iran.

Dampak diplomasi ikut terseret konflik Israel-Lebanon

Pertemuan di Swiss itu merupakan implementasi awal dari MoU yang disepakati sepekan sebelumnya. Isinya mencakup penghentian konfrontasi bersenjata dan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, termasuk penghentian invasi militer Israel ke Lebanon yang berlangsung sejak Maret lalu.

Iran memandang kegagalan menghentikan konflik di Lebanon sebagai alasan utama untuk menunda pembahasan yang lebih substansial. Sikap ini membuat agenda diplomasi yang semestinya membahas masa depan hubungan lebih luas justru tersandera oleh eskalasi di lapangan.

Sebelum pertemuan inti dimulai, delegasi AS dan Iran sempat berdiskusi terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan. JD Vance juga sempat bertemu singkat dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Israel disebut jadi penghambat utama kesepakatan

Dokumen kesepakatan damai yang digagas Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak Februari lalu justru menuai penolakan di internal Israel. Kabinet Netanyahu memilih absen dari perundingan di Swiss dan menyatakan tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan yang diduduki.

Sikap itu memperkuat pandangan Iran bahwa Washington tidak memiliki kendali penuh atas Israel. Dalam konteks ini, Teheran menilai kesepakatan damai sulit maju jika agresi militer Israel masih berlangsung dan tuntutan penarikan pasukan tidak dipenuhi.

Pada awal perang, Trump dan Netanyahu menyebut target operasi militer mereka adalah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, melumpuhkan pasokan rudal kelompok proksi, dan memicu penggulingan pemerintahan di Teheran. Namun hingga pertengahan tahun 2026, belum ada satu pun target strategis itu yang tercapai.

Pengumuman penutupan Selat Hormuz datang saat bursa komoditas global sedang libur, sehingga dampak langsungnya ke pasar belum terlihat sepenuhnya. Tetapi dengan ketegangan yang belum mereda, jalur diplomasi antara Iran dan AS kini kembali berada di bawah bayang-bayang konflik Israel di Lebanon dan tarik-menarik kepentingan di kawasan.

Source: www.suara.com

Terkait