Gelombang panas ekstrem kembali menghantam sejumlah wilayah di Eropa dan memicu dampak serius di lapangan. Di Prancis selatan, dua anak berusia dua dan empat tahun ditemukan tewas di dalam mobil keluarga di kota Carpentras setelah cuaca panas mencapai tingkat yang sangat berbahaya.
Layanan darurat menerima panggilan sekitar pukul 13.20 waktu setempat dan menemukan kedua anak dalam kondisi henti jantung. Petugas juga memberikan pertolongan kepada ibu mereka yang dilaporkan masih dalam keadaan syok.
Tragedi di Carpentras
Penyelidik meyakini sengatan panas ekstrem menjadi penyebab utama kematian dua anak tersebut. Mereka ditemukan di sebuah area parkir permukiman, di dalam mobil yang terpisah dari aktivitas lain di sekitar lokasi.
Kasus ini muncul di tengah lonjakan suhu yang meluas di Eropa Barat. Cuaca panas ekstrem tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga mulai mengganggu layanan publik di berbagai negara.
Prancis pecahkan rekor suhu Juni
Di Prancis, suhu rata-rata siang dan malam sempat mencapai 29,2 derajat celsius. Angka itu memecahkan rekor suhu bulan Juni sebelumnya dan mendorong pemerintah memperluas status siaga merah ke lebih dari separuh wilayah negara.
Dampaknya langsung terasa pada sektor pendidikan. Lebih dari 1.350 sekolah ditutup sementara karena kondisi udara dinilai terlalu berisiko bagi anak-anak dan staf pengajar.
Spanyol dan Inggris juga terdampak
Situasi serupa terjadi di Spanyol, terutama di Madrid dan Cordoba, ketika suhu udara melonjak hingga 40 derajat celsius. Jalanan kota terlihat sepi, sementara pemerintah kota Madrid mendirikan tempat pengungsian iklim bagi tunawisma.
Seorang tunawisma bernama Camilo yang memanfaatkan fasilitas itu menggambarkan betapa beratnya kondisi di luar ruangan. Ia menyebut panas terasa sangat menyesakkan bagi orang yang harus bertahan di jalan tanpa akses memadai untuk mandi atau makan.
Inggris juga mengeluarkan peringatan merah yang jarang terjadi akibat panas ekstrem. Peringatan itu menandai ancaman serius bagi keselamatan jiwa dan berpotensi mengganggu jalur transportasi umum.
Peringatan dari ilmuwan soal pemanasan global
Para ilmuwan menilai gelombang panas yang berulang ini menjadi sinyal kuat dari pemanasan global. Peneliti senior dari University of Reading, Akshay Deoras, mengatakan perubahan iklim yang dipicu manusia telah menambah panas di atmosfer dan membuat suhu ekstrem jauh lebih intens.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana gelombang panas kini berubah menjadi ancaman langsung bagi kesehatan masyarakat, infrastruktur, dan kelompok rentan di berbagai kota besar Eropa. Di tengah situasi seperti ini, tragedi di Carpentras menjadi pengingat paling nyata bahwa suhu ekstrem dapat berujung fatal dalam hitungan waktu singkat.
Source: mediaindonesia.com






