Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menjalani gelombang media yang intens jelang memasuki tahun kelima perang melawan Rusia. Dalam berbagai wawancara bersama sejumlah media internasional, Zelensky menolak narasi bahwa Ukraina sudah kalah dan menegaskan perlunya tekanan militer dan ekonomi dari dunia internasional kepada Rusia. Ia menilai konsesi terhadap Kremlin hanya akan memperkuat Presiden Vladimir Putin untuk melakukan agresi serupa ke negara lain.
Zelensky menerangkan bahwa perang yang berlangsung saat ini sejatinya memperingatkan dimulainya Perang Dunia III. Ia menegaskan bahwa perlawanan Ukraina berperan besar dalam mencegah eskalasi konflik menjadi perang global yang lebih besar. "Putin sudah memulai perang ini, dan kami menghentikannya agar tidak meluas," ujarnya kepada BBC.
Perlawanan Ukraina dan Korban Perang
Sejak invasi Rusia pada akhir Februari dua tahun lalu, korban berjatuhan di kedua belah pihak sangat besar. Ukraina melaporkan lebih dari 55.000 personel militer tewas, sementara diperkirakan Rusia mengalami sekitar 1,2 juta korban. Terlepas dari kerugian besar tersebut, Zelensky optimistis bahwa Ukraina belum kalah dan tetap berdaulat sebagai negara merdeka meski berada di tengah konflik sengit.
Meski musim dingin membawa kesulitan besar akibat serangan Rusia ke infrastruktur energi yang mematikan pasokan listrik, Zelensky mengatakan bahwa Kremlin tidak sedang menang dalam perang ini. Ia menekankan bahwa berbicara tentang "menang" dalam peperangan seperti ini tidak realistis mengingat tingginya harga yang dibayar kedua pihak.
Pemilihan di Tengah Perang
Isu pemilu yang semula dijadwalkan di Ukraina juga mendapat sorotan. Kritikan terhadap Zelensky muncul dari pihak-pihak yang menuduhnya menunda pemilu demi mempertahankan kekuasaan. Namun, Presiden Ukraina menegaskan bahwa mayoritas rakyat menolak pemilihan digelar selama kondisi perang masih aktif. Survei dari Kyiv International Institute of Sociology menunjukkan 90% warga menentang pemilu sebelum adanya gencatan senjata atau jaminan keamanan.
Zelensky menyatakan bahwa mengadakan pemilu tanpa adanya keamanan penuh akan sangat berbahaya dan "mengalihkan fokus dari perang ke politik adalah kesalahan besar." Ia terbuka untuk mengadakan pemilu sesegera mungkin apabila perang bisa dihentikan, tetapi hal ini mensyaratkan adanya jaminan keamanan yang kuat, termasuk gencatan senjata.
Kebutuhan akan Jaminan Keamanan yang Tegas
Ukraina terus berupaya meminta jaminan keamanan hukum yang kuat, terutama dari Amerika Serikat, sebelum menyepakati perjanjian damai apapun. Zelensky mengungkapkan perlunya jaminan tersebut berlaku minimal selama dua dekade dan harus bersifat mengikat secara hukum agar Rusia tidak kembali melakukan agresi.
Ia mendesak Kongres AS agar memberikan dukungan institusional, karena perubahan kepemimpinan di pemerintahan Amerika dapat membuat kebijakan bantuan menjadi tidak konsisten. "Presiden berganti, tapi institusi harus tetap berkomitmen," ucap Zelensky menjelaskan pentingnya kesinambungan dukungan.
Sikap Tegas terhadap Wilayah Donbas
Perselisihan terbesar dalam negosiasi damai adalah soal kontrol wilayah Donbas di timur Ukraina. Zelensky dengan tegas menolak desakan Rusia dan beberapa pihak agar Ukraina menarik pasukannya dari daerah ini. Ia menganggap menyerahkan wilayah tersebut berarti mengkhianati rakyat dan melemahkan posisi nasional.
Survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Ukraina juga menolak penyerahan seluruh Donbas kepada Rusia sebagai imbalan jaminan keamanan. "Kami tidak bisa begitu saja menyerahkan negara ini tanpa perlawanan," kata Zelensky. Ia memperingatkan bahwa mundur dari Donbas akan memecah belah masyarakat dan mengorbankan warga yang tinggal di sana.
Dalam menghadapi tekanan diplomatik dan tantangan perang yang terus berlanjut, Presiden Zelensky menegaskan bahwa perjuangan Ukraina bukan sekadar mempertahankan wilayah, melainkan juga menjaga kedaulatan dan masa depan bangsa. Ia mengajak komunitas internasional untuk memperkuat dukungan dan tetap mendesak Moskow demi tercapainya perdamaian yang adil dan bertahan lama.
