Kunjungan resmi pertama Kanselir Jerman Friedrich Merz ke China berlangsung di tengah meningkatnya tekanan kompetitif dari produsen China terhadap industri manufaktur Jerman. Kunjungan dua hari ini juga menjadi bagian dari rangkaian kunjungan pemimpin dunia ke Beijing menjelang kedatangan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa minggu ke depan.
Merz menghadapi sejumlah isu utama, termasuk defisit perdagangan Jerman yang terus melebar dengan China. Ia juga berencana mengangkat dukungan China terhadap Rusia dalam konflik Ukraina, walaupun tidak ada harapan perubahan sikap signifikan dari Beijing.
Perdagangan dan Ketidakseimbangan Ekonomi
Pada tahun lalu, impor Jerman dari China meningkat 8,8% mencapai 170,6 miliar euro. Sementara ekspor Jerman ke China justru turun 9,7% menjadi 81,3 miliar euro. Data ini mengindikasikan ketidakseimbangan perdagangan yang makin menguat. Perusahaan manufaktur China mendapat keuntungan dari pengurangan impor AS akibat tarif perdagangan yang diterapkan oleh Trump.
Situasi ini mendorong Jerman untuk terus menekan China dalam membuka pasar dan mengurangi hambatan perdagangan. Sejumlah perusahaan Jerman, khususnya di sektor otomotif, menghadapi persaingan ketat dari produsen kendaraan listrik China yang kian berkembang pesat.
Fokus Politik dan Geopolitik dalam Kunjungan
Merz dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri China Li Qiang dan Presiden Xi Jinping, yang jarang melakukan kunjungan luar negeri, menjadikan Beijing tempat penting untuk diplomasi tingkat tinggi. Selain agenda ekonomi, isu dukungan China terhadap Rusia dalam perang Ukraina juga menjadi topik krusial.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyatakan bahwa krisis Ukraina tidak seharusnya menjadi persoalan antara China dan Eropa. China menegaskan posisi objektif dan netral, berbeda dengan kebijakan Jerman dan banyak negara Eropa lainnya yang mengecam Rusia.
Pendekatan Strategis Jerman Terhadap China
Kanselir Merz mengingatkan pentingnya Eropa untuk "berbahasa politik kekuasaan" guna memperkuat posisi ekonomi dan militernya di dunia yang sedang berubah. Merz menyatakan bahwa Jerman tidak boleh memiliki ilusi tentang China, yang berusaha membentuk tatanan dunia baru berdasarkan aturan yang didefinisikan sendiri.
Dalam upaya mengurangi risiko ketergantungan, Jerman mengadopsi strategi "de-risking" dengan membatasi ketergantungan pada pasar dan produk strategis China, termasuk bahan logam tanah jarang yang krusial untuk industri otomotif, teknologi, dan pertahanan.
Agenda Kunjungan dan Langkah Diplomasi Jepang
Selain pertemuan dengan pejabat tinggi China, Merz juga mengunjungi fasilitas Mercedes-Benz dan kota teknologi Hangzhou, pusat perusahaan e-commerce Alibaba dan pengembang robot Unitree Robotics. Delegasi bisnis yang dibawa Merz menyasar perluasan pasar dan kerja sama teknologi.
Kunjungan ini juga menjadi persiapan menjelang kunjungan kedua Merz ke Washington. Hal ini menunjukkan keseimbangan diplomasi Jerman antara menjaga hubungan penting dengan China sekaligus memperkuat kerjasama dengan AS di tengah dinamika tatanan dunia baru.
Dengan adanya ketegangan geopolitik, pertumbuhan ketidakseimbangan perdagangan, dan persaingan teknologi, kunjungan Merz menandai babak baru dalam hubungan bilateral Jerman-China yang semakin kompleks, sekaligus mencerminkan keinginan Jerman untuk beradaptasi dalam tatanan global yang tengah berubah.







