Alexandria Kehilangan Identitas Saat Trem Bersejarah 163 Tahun Menghilang di Tengah Proyek Urbanisasi yang Memecah Pendapat

Sepanjang pesisir Mediterania Mesir, trem tertua di Afrika dan Timur Tengah bersiap untuk beroperasi terakhir kali sebelum dihapus. Trem berusia 163 tahun ini menjadi simbol budaya yang kini harus mengikuti rencana transformasi transportasi kota Alexandria.

Warga setempat menunjukkan kekecewaan atas penggantian trem yang dianggap bukan sekadar alat angkut, melainkan bagian dari warisan sejarah yang tak tergantikan. Peneliti urban Nahla Saleh menyebut trem ini “warisan, bukan sekadar moda transportasi.”

Sejarah dan Peran Trem di Alexandria

Trem ini mulai beroperasi pada 1863, menjadi salah satu trem tertua di dunia dan unik karena menggunakan gerbong tingkat ganda. Peran trem sangat vital dalam perkembangan Alexandria sebagai pusat kosmopolitan yang dihuni komunitas Eropa dan berbagai budaya lainnya.

Selama lebih dari satu setengah abad, trem mengukir sejarah di rute sepanjang 11 kilometer yang melewati banyak institusi pendidikan dan pusat aktivitas masyarakat. Hal ini memperkuat fungsi trem sebagai tulang punggung mobilitas warga.

Proyek Penggantian Trem dengan Light Rail Modern

Pemerintah berencana mengganti trem dengan jalur light rail yang sebagian dibangun melayang (elevated). Proyek ini didukung oleh perusahaan internasional seperti Systra, Hyundai, dan Hitachi yang menjanjikan kecepatan dua kali lipat serta kapasitas tiga kali lipat.

Namun, rencana tersebut menghadirkan kekhawatiran warga atas kerusakan lanskap dan hilangnya pohon-pohon rindang di sepanjang jalur trem saat ini. Bahkan mereka menganggap besi penyangga beton proyek baru akan merusak estetika kawasan yang selama ini menjadi ciri khas kota.

Reaksi dan Kekhawatiran Warga Alexandria

Warga tidak menentang kemajuan, tetapi keberlanjutan dan kualitas menjadi perhatian utama. Psikolog Mona Lamloum mengkritik bagaimana “kemajuan” selama ini sering berujung pada penghancuran.

Sejak beberapa tahun terakhir, proyek pembangunan meratakan taman bersejarah dan menghambat akses ke pesisir kota. Lebih dari setengah garis pantai Mediterania Alexandria kini tertutup oleh jalan tol empat lajur dan kegiatan komersial yang menyulitkan warga mengakses pantai.

Dampak Penutupan Trem Terhadap Mobilitas

Penutupan parsial trem membuat pemerintah memberlakukan jadwal sekolah dan universitas bergilir agar memudahkan mobilisasi pelajar. Peneliti Nahla Saleh menilai proyek menggantikan trem justru membuat kota lebih bergantung pada kendaraan pribadi dan memperparah kemacetan lalu lintas.

Meskipun trem berjalan lambat, kecepatan tersebut memberi rasa aman terutama bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang menjadi pengguna utama transportasi ini. Hisham Abdelwahab, pensiunan guru yang telah naik trem sejak kecil, mengatakan bahwa kecepatan rendah justru menjadi keistimewaan tersendiri bagi penumpang.

Nilai Warisan dan Kenangan Kolektif Warga

Bagi warga seperti Abdelwahab dan mahasiswa teknik Mahmoud Bassam, trem bukan hanya moda transportasi tapi bagian dari identitas lokal. Bassam berpindah ke Alexandria demi menikmati perjalanan dengan trem yang kini sudah hilang dari ibukota Mesir, Kairo.

Salah satu daya tarik utama trem adalah pemandangan bangunan bergaya neo-Venesia dan angin laut segar. Namun kini, suasana tersebut terancam oleh pembangunan infrastruktur yang menutupi panorama asli kota.

Transformasi Pantai dan Wajah Baru Alexandria

Seiring trem yang akan berakhir, akses ke garis pantai yang dulu menjadi tempat rekreasi dan kebanggaan warga semakin terbatas. Studi oleh Human and the City for Social Research menunjukkan bahwa lebih dari setengah pantai Mediterania Alexandria sudah hilang dari pandangan publik.

Kemegahan alam yang dulu diabadikan dalam lagu-lagu terkenal kini tergantikan oleh beton dan jalan raya yang mempersempit ruang publik. Warga merasa kehilangan dua hal berharga sekaligus: tram yang menjadi warisan sejarah dan pesisir laut yang selama ini menjadi identitas kota.

Alexandria kini menghadapi tantangan besar antara menjaga warisan kultural dan menerima kemajuan perkotaan. Warga berharap rencana pembangunan bisa lebih memperhatikan aspek sosial dan ekologis agar kota tetap mempertahankan pesona sekaligus fungsinya sebagai kota pelabuhan yang hidup.

Berita Terkait

Back to top button