Jaksa di Brasil mendesak agar dua politisi dihukum atas perannya dalam pembunuhan Marielle Franco, anggota dewan kota Rio de Janeiro, pada 2018. Kasus ini mengungkap hubungan erat antara dunia politik dan kejahatan terorganisir di kota tersebut.
Marielle Franco, seorang aktivis kulit hitam dan lesbian, dikenal vokal menentang kelompok milisi yang kuat di Rio. Pada usia 38 tahun, ia ditembak mati di pusat kota bersama sopirnya, Anderson Gomes.
Dua mantan polisi militer yang melaksanakan pembunuhan tersebut telah menerima hukuman penjara berat pada tahun ini. Kini, Mahkamah Agung sedang mengadili Chiquinho Brazao, mantan anggota parlemen federal, dan saudaranya Domingos, eks anggota parlemen negara bagian, yang diduga memerintahkan pembunuhan.
Jaksa penuntut, Hindenburg Chateaubriand, menegaskan tidak ada keraguan mengenai “tanggung jawab kriminal” kedua bersaudara tersebut dalam kasus ini. Motif mereka adalah penentangan Marielle terhadap rencana yang dapat “melembagakan” kepemilikan lahan ilegal yang dikuasai oleh milisi.
Chateaubriand menambahkan Marielle dianggap “ancaman bagi kepentingan saudara Brazao.” Empat hakim Mahkamah Agung akan memulai pemungutan suara untuk memutuskan vonis terhadap keduanya.
Menantu Marielle, Monica Benicio, mengungkapkan rasa sakit yang telah bertahan selama delapan tahun sejak pembunuhan itu terjadi. Ia menyebut waktu ini sebagai masa berkabung yang sangat panjang.
Milisi di Rio terbentuk sekitar 40 tahun lalu oleh mantan polisi dan petugas keamanan sebagai kelompok pertahanan masyarakat melawan geng narkoba. Namun, kelompok ini berkembang menjadi organisasi kriminal besar.
Kelompok milisi menguasai wilayah luas di Rio, memeras warga, dan merebut tanah publik dengan dukungan politik tingkat tinggi. Direktur Amnesty International Brasil, Jurema Werneck, menyatakan bahwa para pelaku yang dulu dianggap kebal hukum kini sedang diadili.
Menurut Werneck, Brasil memiliki kesempatan untuk mengakhiri kebiasaan impunitas melalui proses ini. Jaksa juga meminta hukuman terhadap tiga terdakwa lain dalam kasus yang sama.
Rivaldo Barbosa, mantan komisaris polisi yang memimpin penyelidikan awal, dituduh berupaya menjamin impunitas bagi pelaku yang memerintahkan pembunuhan. Seorang mantan polisi militer serta mantan penasihat Domingos Brazao juga sedang diadili.
Saudara Brazao membantah keterlibatan mereka dan menolak kesepakatan penyelesaian dengan Ronnie Lessa, mantan polisi militer yang mengaku menjadi eksekutor pembunuhan. Lessa divonis 78 tahun penjara setelah mengakui perannya.
Dalam persidangan, Lessa mengatakan dirinya “terbakar emosi” oleh hadiah berjumlah jutaan dolar yang dijanjikan untuk membunuh Marielle. Namun, pengacara Domingos Brazao, Marcio Palma, menyebut pengakuan Lessa sebagai “cerita yang dibuat-buat.”
Kasus ini menjadi sorotan penting terkait perjuangan melawan korupsi dan kekerasan yang melibatkan hubungan antar elit politik dan kelompok kriminal di Brasil. Persidangan Mahkamah Agung ini dipandang krusial dalam menentukan masa depan penegakan hukum di Rio de Janeiro.







