Iran dan Amerika Serikat menggelar perundingan di Swiss sebagai upaya terakhir untuk mencegah konflik militer. Pertemuan ini berlangsung di tengah peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang terbesar dalam beberapa dekade.
Pembicaraan dimediasi oleh Oman dan dilakukan di kediaman duta besar Oman dengan pengamanan ketat. Aksi protes dilakukan oleh kelompok pengasingan Iran terhadap delegasi Iran pada pertemuan sebelumnya dengan melemparkan benda ke rombongan delegasi.
Menlu Oman Badr Albusaidi mengkonfirmasi bahwa diskusi sudah dimulai dan kedua pihak menunjukkan “keterbukaan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ide dan solusi baru”. Pembicaraan sempat diberhentikan sementara dan dijadwalkan dilanjutkan kembali pada hari yang sama.
Kepala Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, turut bergabung dalam pembicaraan, memberikan pengawasan internasional terhadap perundingan nuklir ini. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Meski Iran menekankan pembahasan hanya soal program nuklir sipilnya, AS meminta Iran mengekang program misil dan dukungannya pada kelompok militan di wilayah regional. Amerika memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan dua kapal induk, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, serta lebih dari 12 kapal perang lain di kawasan.
Menurut AFP, kehadiran dua kapal induk sekaligus di Timur Tengah jarang terjadi karena kapal ini membawa puluhan pesawat tempur dan ribuan awak kapal. Langkah ini dianggap sebagai tanda ketegangan yang semakin meningkat di tengah unjuk rasa besar-besaran di Iran yang berujung pada ribuan demonstran tewas, sebagaimana laporan organisasi HAM.
Dalam pidato State of the Union, Presiden AS Donald Trump menyebut Iran memiliki “niat jahat” terkait senjata nuklir. Namun, Iran menolak klaim tersebut dengan menyebutnya sebagai “bohong besar”. Jarak jangkauan misil Iran secara resmi adalah sekitar 2.000 kilometer, sementara perkiraan Kongres AS menempatkannya di kisaran 3.000 kilometer, di bawah sepertiga jarak ke wilayah benua AS.
Sebelum pembicaraan dimulai, Senator Marco Rubio menekankan pentingnya Iran berunding soal program misil balistiknya. Ia menyebut penolakan Iran terhadap pembahasan misil sebagai “masalah besar”. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance memperingatkan Iran agar serius menangani ancaman Trump dan menyatakan hak presiden untuk menggunakan tindakan militer.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang menyebut pertemuan ini sebagai “kesempatan bersejarah” dan optimistis kesepakatan “dalam jangkauan”. Sementara itu, Amerika Serikat diwakili oleh utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump.
Sebelumnya, kedua negara juga telah mengadakan pembicaraan di Oman dan di Jenewa. Upaya perundingan sebelumnya mengalami kegagalan setelah Israel melancarkan serangan tak terduga ke Iran, memicu perang selama 12 hari dan melibatkan serangan udara AS terhadap situs nuklir Iran.
Kontroversi ini terjadi di tengah gelombang protes nasional di Iran yang telah berlangsung sejak Januari lalu sebagai tantangan serius bagi rezim. Aktivitas demonstrasi masih berlangsung di sejumlah kampus dan kota, menimbulkan perasaan ragu di antara warga terkait kemungkinan pecahnya konflik baru.
Seorang warga Tehran, Tayebeh, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perang akan membawa penderitaan besar termasuk kelaparan. Namun, ia juga menyebut bahwa situasi saat ini sudah sulit, dan dengan adanya perang, paling tidak nasib mereka akan menjadi lebih jelas.
Pertemuan ini menjadi titik krusial untuk menentukan arah hubungan kedua negara dan stabilitas kawasan, yang disaksikan dunia dengan penuh perhatian untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
