Pakistan menyatakan sedang dalam “perang terbuka” dengan Afghanistan menyusul gelombang serangan terakhir yang menimbulkan eskalasi konflik terburuk sejak gencatan senjata yang difasilitasi Qatar pada Oktober lalu. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, setelah Afghanistan melakukan serangan lintas batas yang memicu serangan balasan melalui serangan udara oleh Pakistan di Kabul serta provinsi lain.
Menteri Asif mengungkapkan bahwa Pakistan awalnya berharap perdamaian tercipta setelah penarikan pasukan NATO dan pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban di Afghanistan. Namun, harapan tersebut pupus karena Taliban dianggap justru mengubah Afghanistan menjadi “koloni India” yang memperkuat rivalitas dengan Pakistan, khususnya di tengah peningkatan kerja sama ekonomi dan politik antara Afghanistan dan India.
Konflik Memanas di Perbatasan
Bentrok bersenjata antara kedua negara terjadi di wilayah perbatasan Nangarhar, khususnya di daerah Torkham, dengan laporan mortar Pakistan mengenai wilayah sipil dan kamp pengungsi. Pihak Afghanistan membalas dengan menargetkan pos militer Pakistan di seberang perbatasan. Kedua negara mengklaim telah menyebabkan kerugian besar pada pihak lawan, meskipun angka korban dan kerugian ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Berikut rincian klaim korban menurut masing-masing pihak:
- Afghanistan menyatakan telah menewaskan 55 tentara Pakistan dan menangkap beberapa lainnya.
- Mereka mengkonfirmasi 8 tentara Afghanistan tewas dan 11 luka-luka, serta menghancurkan 19 pos dan dua pangkalan militer Pakistan.
- Pakistan melaporkan 2 tentara tewas dan 3 luka, dengan klaim menewaskan 133 pejuang Afghanistan dan menghancurkan 27 instalasi serta menangkap 9 pejuang.
Tuduhan “Ekspor Terorisme” oleh Pakistan
Pakistan menuding Afghanistan terus “mengekspor terorisme,” menghubungkan Taliban Afghanistan yang berkuasa dengan kelompok militan seperti Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) dan gerakan separatis Baloch yang dilarang. Hubungan Taliban Afghanistan dan TTP yang erat disorot sebagai ancaman stabilitas Pakistan. Selain itu, Islamabad juga menuduh India mendukung kelompok pemberontak yang beroperasi di wilayahnya, tuduhan yang selalu dibantah oleh New Delhi.
Serangan Balasan dan Dampaknya
Serangan udara Pakistan diarahkan ke beberapa wilayah di Afghanistan, termasuk Kabul, Kandahar, dan Paktia, sebagai balasan atas serangan lintas batas Afghanistan yang diluncurkan di enam provinsi sepanjang garis Durand sepanjang 2.600 km, yang tidak diakui secara formal oleh Afghanistan. Konflik ini dipicu oleh serangkaian insiden sejak Oktober lalu yang telah mengakibatkan korban jiwa di kedua sisi perbatasan dan menggagalkan berbagai upaya damai termasuk beberapa putaran perundingan di Istanbul.
Seruan Internasional untuk Menahan Diri
PBB, melalui Sekretaris Jenderal António Guterres, meminta kedua negara melindungi warga sipil dan menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomasi. Rusia mendesak gencatan senjata dan menawarkan diri sebagai mediator jika diminta. Iran juga mengajak kedua negara berdialog selama bulan suci sebagai upaya meredakan ketegangan.
Krisis Pengungsi di Perbatasan
Ketegangan yang meningkat juga memaksa pengungsian puluhan warga Afghanistan di perbatasan Torkham demi keselamatan mereka. Sejak Pakistan mengeluarkan operasi pengetatan terhadap migran tanpa dokumen pada Oktober lalu, jutaan orang Afghanistan, termasuk mereka yang telah lama tinggal di Pakistan, kembali ke tanah airnya. Data PBB menunjukkan sekitar 2,9 juta orang telah kembali ke Afghanistan sepanjang tahun lalu, dengan tambahan 80.000 pengungsi sepanjang tahun ini.
Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan menandai gelombang terbaru dalam dinamika geopolitik yang kompleks di Asia Selatan. Konflik ini tidak hanya memperburuk hubungan bilateral tetapi juga mengancam stabilitas regional yang lebih luas, terutama dengan keterlibatan aktor internasional dan perang proksi yang berpotensi berkembang. Langkah diplomasi dan upaya mediasi dari berbagai pihak kini sangat dibutuhkan untuk mencegah eskalasi yang lebih besar dan dampak kemanusiaan yang luas.









