Petugas Transport Security Administration (TSA) di seluruh Amerika Serikat menerima sebagian kecil dari gaji biasanya akibat berlarutnya penutupan sebagian pemerintah. Kondisi ini meningkatkan risiko meningkatnya angka ketidakhadiran, pengunduran diri, serta penumpukan antrean keamanan di bandara.
Penutupan operasi sebagian pemerintah dimulai setelah dana Departemen Keamanan Dalam Negeri habis karena kegagalan Kongres mencapai kesepakatan terkait reformasi penegakan imigrasi yang diminta oleh Partai Demokrat. Dampak terutama dirasakan oleh TSA sebagai salah satu badan pemerintah yang operasionalnya terganggu.
Dampak Signifikan Terhadap Petugas TSA
Penutupan kali ini memang tidak selama rekor penutupan 43 hari pada Oktober-November sebelumnya, tetapi jika terus berlanjut, konsekuensinya tetap akan serius. Philip Glover, wakil presiden nasional District 3 dari American Federation of Government Employees (AFGE), menyatakan bahwa kekecewaan petugas TSA semakin cepat meningkat.
Pihak serikat pekerja memperkirakan peningkatan pengunduran diri staf TSA, sementara yang bertahan harus semakin mengefisienkan keuangan mereka, terutama yang masih memulihkan kondisi finansial dari penutupan sebelumnya. Ha Nguyen McNeill, pejabat tinggi TSA, mengungkapkan bahwa sekitar 1.110 petugas keamanan transportasi meninggalkan TSA dalam dua bulan terakhir tahun lalu, meningkat lebih dari 25 persen dibanding waktu yang sama tahun sebelumnya.
Realitas Sulit Dihadapi Petugas
Menurut McNeill, selama penutupan sebelumnya, sejumlah petugas dilaporkan tidur di mobil di bandara demi menghemat bahan bakar, bahkan menjual darah atau plasma untuk mendapatkan tambahan uang. Beliau menambahkan TSA tengah berupaya meningkatkan jumlah staf demi menghadapi lonjakan penumpang selama musim liburan dan perhelatan seperti Piala Dunia.
Seorang petugas TSA di Bandara Internasional Harry Reid Las Vegas menyatakan merasa tertekan dengan kondisi berturut-turut ini. Meski ingin mempertahankan pekerjaannya demi manfaat kesehatan, dia mulai mempertimbangkan pilihan mengakhiri karier setelah sembilan tahun bekerja.
Para petugas harus terus mencari cara untuk bertahan tanpa gaji selama penutupan ini. Manajemen TSA makin menekan terkait absensi, sementara sejumlah petugas terpaksa mengambil pekerjaan sampingan guna menutup kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi yang Mendorong Perubahan Karier
Darrell English, presiden AFGE Local 777 yang mewakili pekerja TSA di Illinois dan Wisconsin, mengungkapkan bahwa ketidakpastian terus-menerus seperti ini memaksa banyak petugas mencari alternatif untuk menjaga kestabilan finansial. Neal Gosman, bendahara AFGE Local 899 di Minnesota, mengamati sejumlah koleganya yang berpengalaman memutuskan pensiun tepat saat penutupan ini berlangsung.
Fenomena pengunduran diri pada petugas senior ini dapat menunjukkan dampak psikologis dan finansial yang semakin dalam akibat penutupan berulang. Selain itu, risiko kekurangan staf akan memperberat penanganan keamanan di bandara yang sudah rentan terhadap antrian panjang dan keterlambatan pemeriksaan.
Penutupan parsial pemerintah yang masih berlangsung menyisakan tantangan berat bagi petugas TSA. Mereka harus menyeimbangkan kebutuhan finansial dengan tanggung jawab menjaga keselamatan penumpang di tengah sumber daya yang semakin terbatas. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, risiko gangguan layanan di bandara nasional dapat makin memburuk.









