Banyak bandara di Amerika Serikat berupaya memenuhi kebutuhan makan para petugas TSA yang belum digaji akibat pembekuan dana pemerintah pada Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Para petugas ini menghadapi masa tanpa gaji untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir, sementara antrean pemeriksaan keamanan di beberapa bandara melambat karena kekurangan staf.
Selama penutupan pemerintah yang berlangsung 43 hari tahun lalu, banyak petugas TSA harus mengatur keuangan dengan sangat ketat dan masih berjuang melunasi utang mereka. Kini, dengan jeda dana yang sudah memasuki minggu kelima, para petugas ini terancam kembali tidak menerima gaji penuh, meski mereka tetap diminta hadir untuk menjaga kelancaran pemeriksaan.
Dukungan dan Bantuan Makanan untuk Petugas TSA
Untuk meringankan beban para petugas, sejumlah bandara melakukan penggalangan bantuan makanan dan menerima donasi kebutuhan pokok. Beberapa petugas bahkan mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengantar barang atau pengemudi layanan ride-sharing guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Rebecca Wolf, Presiden AFGE Local 1127 yang mewakili petugas TSA di 47 bandara barat Amerika Serikat, banyak pekerja yang sudah mengajukan bantuan sosial seperti food stamps. Ada juga petugas yang terpaksa tidur di mobil dan mengalami penggusuran dari tempat tinggal.
Inisiatif Bandara untuk Membantu Petugas
Bandara Minneapolis-St. Paul dan Phoenix membuka pengumpulan donasi berupa kartu bahan bakar, makanan, dan barang kebutuhan bayi. Bandara Seattle-Tacoma menyediakan dapur makanan gratis, sementara Dallas Fort Worth International membawa makanan langsung ke pos pemeriksaan dua kali seminggu.
Di bandara Hartsfield-Jackson Atlanta, para petugas TSA mendapatkan voucher makan gratis sekali per shift, serta fasilitas parkir dan kartu transportasi umum tanpa biaya. Wali Kota Atlanta, Andre Dickens, memuji dedikasi petugas dalam melindungi jutaan penumpang meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Dampak Kekurangan Dana Terhadap Operasional dan Staf
Sejak shutdown dimulai, terdapat 366 petugas TSA yang mengundurkan diri, dan kondisi ini berpotensi menyebabkan penutupan beberapa bandara kecil akibat kekurangan petugas keamanan. Dana pemerintah yang belum cair dipengaruhi oleh perselisihan politik, terutama terkait isu imigrasi yang menjadi hambatan dalam pembahasan anggaran DHS.
Senator John Thune mengonfirmasi bahwa negosiasi bipartisan masih berlangsung untuk menyelesaikan permasalahan pendanaan, namun belum ada kepastian waktu penyelesaian. Everett Kelley, Presiden AFGE, menyatakan bahwa situasi para petugas yang terpaksa menjual plasma darah demi memenuhi kebutuhan rumah tangga adalah hal yang tidak dapat diterima.
Hambatan Petugas TSA dalam Menghadapi Krisis
Petugas yang mengajukan surat dari DHS kepada kreditor agar denda keterlambatan dibebaskan kerap menghadapi penolakan. Sementara itu, petugas yang sakit harus menyertakan surat keterangan dokter untuk izin tidak masuk, menunjukkan ketatnya aturan di tengah krisis ini.
Menurut Cathy Creighton dari Cornell University, kekurangan petugas TSA diperkirakan akan meningkat jika perlakuan kurang adil terhadap pekerja terus berlanjut. Kondisi ini mengindikasikan tantangan serius tidak hanya bagi petugas keamanan, tetapi juga bagi operasional bandara dan keselamatan perjalanan udara nasional.
Dengan latar belakang tersebut, upaya bantuan dan penggalangan dana di berbagai bandara menjadi hal yang sangat diperlukan untuk menopang stabilitas dan kesehatan petugas TSA selama masa ketidakpastian pendanaan Pemerintah AS ini.









