Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran menghadapi hambatan yang signifikan karena tuntutan AS dinilai terlalu berlebihan oleh pihak Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, menegaskan bahwa agar perundingan dapat mencapai hasil yang sukses, pihak AS harus menanggalkan tuntutan berlebihan tersebut.
Aragchi menyampaikan hal ini dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdel Ati. ia menegaskan bahwa keberhasilan dialog memerlukan sikap serius dan realistis dari pihak lain tanpa adanya kesalahan perhitungan maupun tuntutan yang tidak masuk akal. Namun, ia tidak menguraikan secara detail tuntutan mana saja yang dimaksud.
Sebelumnya, Aragchi sempat mengungkapkan adanya kemajuan positif dalam perundingan dan menyebut putaran pembicaraan terakhir di Jenewa sebagai yang paling intensif sejauh ini. Dialog tersebut menghasilkan kesepahaman untuk melanjutkan diskusi lebih mendalam terkait isu krusial, termasuk pencabutan sanksi dan langkah-langkah terkait program nuklir Iran.
Perundingan lanjutan akan dilakukan bersamaan dengan pertemuan tim teknis di Wina dalam beberapa hari ke depan. Pertemuan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran tersebut dimediasi oleh Oman dan berlangsung di Swiss, sebelum kedua belah pihak kembali berkonsultasi dengan pemerintah masing-masing.
Sejak pembicaraan dimulai kembali bulan lalu, AS menuntut Iran untuk membongkar seluruh infrastruktur nuklirnya, membatasi persenjataan misil balistik, dan menghentikan dukungan terhadap sekutu regional. Iran menunjukkan sikap fleksibel terkait pembatasan pengayaan uranium untuk keperluan sipil, tetapi tetap menolak negoisasi tentang misil dan kelompok proxy yang didukungnya.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dukungan untuk penyelesaian diplomatik, namun tetap mengancam serangan militer jika Iran menolak kesepakatan. Penambahan kekuatan militer AS di kawasan mencapai titik tertinggi sejak invasi Irak pada 2003, termasuk kedatangan kapal induk AS terbesar, USS Gerald R Ford, di pelabuhan Haifa, Israel.
Iran secara terbuka menolak memulai konflik militer, tetapi siap merespons apabila diserang dengan ancaman menyerang pangkalan AS di kawasan. Kondisi ini menimbulkan ketegangan tinggi yang berpotensi memicu perang regional.
Menyikapi situasi yang semakin tegang, sejumlah negara mengambil langkah protektif. China mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran, sementara AS mengizinkan staf non-darurat kedutaan besarnya di Israel untuk keluar dari negara tersebut. Kanada, India, Inggris, dan Polandia juga mengeluarkan instruksi serupa terhadap personelnya di kawasan.
Poin Penting dalam Negosiasi Nuklir Iran-AS
- AS membutuhkan Iran merobohkan seluruh fasilitas nuklirnya
- Pembatasan arsenal misil balistik menjadi syarat utama AS
- Iran bersikap fleksibel soal pengayaan uranium untuk kegiatan sipil
- Isu dukungan Iran terhadap sekutu regional dianggap non-negotiable oleh Iran
- Dialog berlangsung secara tidak langsung dan dimediasi pihak ketiga
- Risiko konflik regional mempengaruhi dinamika negosiasi
Ketegangan militer serta tuntutan yang berlebihan menjadi kendala utama dalam negosiasi nuklir ini. Upaya diplomasi masih terus dilakukan dengan harapan pihak-pihak dapat menemukan titik temu yang realistis demi menjaga stabilitas regional dan mencegah konflik lebih luas.
