Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap Iran, menggagalkan negosiasi nuklir dan menimbulkan spekulasi soal sasaran utama mereka. Salah satu target diduga terkait dengan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang menjadikan posisi dirinya sangat penting dalam peta politik negeri tersebut.
Serangan-serangan itu terjadi di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Tehran. Media semiofisial Iran melaporkan adanya tujuh rudal yang menghantam kawasan sekitar istana kepresidenan dan kompleks kediaman Khamenei. Selain itu, kantor-kantor Khamenei juga disebut rusak akibat serangan tersebut, menunjukkan fokus yang kuat pada pusat kendali pemerintah.
Khamenei sendiri adalah figur sentral dalam Republik Islam Iran sejak mengemban jabatan pemimpin tertinggi pada 1989. Menggantikan pendiri negara, Ayatollah Khomeini, Khamenei memegang otoritas tertinggi dalam semua lembaga pemerintah, militer, serta badan kehakiman, sekaligus menjadi pemimpin spiritual bangsa. Pada usia 86 tahun, ia terus mempertahankan pengaruh kuat meskipun mendapat tekanan berat dari Barat.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat maupun Israel sudah berlangsung lama. Khamenei secara terbuka menyebut AS sebagai “musuh nomor satu” Iran, diikuti oleh Israel. Loyalitasnya terhadap dua institusi keamanan utama, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Basij, menjadi fondasi kekuatannya, yang memiliki ratusan ribu relawan paramiliter.
Mengenai program nuklir Iran, Khamenei menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir, melainkan hanya untuk tujuan sipil. Laporan intelijen Amerika Serikat dan badan pengawas nuklir PBB tidak menemukan bukti upaya pembuatan senjata atom oleh Iran, meskipun narasi sebaliknya sering diajukan oleh Israel dan beberapa pejabat Amerika.
Pernyataan pejabat tinggi AS dan Israel telah mengindikasikan ancaman langsung kepada Khamenei. Pada bulan Juni, setelah eskalasi serangan dan balasan antara Iran dan Israel, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa Khamenei tidak dapat terus berkuasa. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan tidak menutup kemungkinan tindakan pembunuhan terhadap Khamenei untuk mengakhiri konflik yang berlarut-larut.
Di pihak Amerika Serikat, mantan Presiden Donald Trump juga sempat memberi pernyataan yang terkesan mengancam pemimpin tertinggi Iran tersebut. Ia menyebut Khamenei seharusnya “sangat khawatir” dengan kehadiran kekuatan militer AS di wilayah itu dan menganggap penggulingan rezim Iran sebagai yang terbaik yang bisa terjadi. Pada kesempatan lain, Trump mengklaim mengetahui lokasi persembunyian Khamenei dan menyebutnya sebagai “sasaran mudah,” meski tidak melancarkan aksi tersebut.
Motif serangan terbaru jelas berfokus untuk melemahkan struktur kepemimpinan Iran. Trump bahkan menyatakan niat menghancurkan angkatan laut Iran dan fasilitas misil mereka, sambil menyerukan warga Iran untuk menggulingkan pemerintahannya sendiri. Analis Al Jazeera, Ali Hashem, menilai bahwa serangan ini bertujuan “memutus kepala” elit politik Iran, meskipun tingkat keberhasilan masih belum pasti.
Situasi ini mengindikasikan eskalasi signifikan dalam hubungan AS-Israel dengan Iran, dimana Khamenei berdiri sebagai pusat kekuasaan sekaligus target utama. Serangan yang mencakup wilayah strategis di Tehran menandai intensifikasi konflik, yang bisa berimplikasi besar pada stabilitas kawasan dan diplomasi global. Peta kekuasaan yang terpusat pada figur tunggal seperti Khamenei membuat fokus pengaruh dan strategi oposisi menjadi sangat tersentralisasi pula.









