Ketegangan di perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan kembali meningkat tajam setelah sebuah jet tempur Pakistan dilaporkan jatuh di Jalalabad, wilayah timur Afghanistan. Militer dan kepolisian Afghanistan menyatakan jet tersebut ditembak jatuh oleh pasukan mereka, dan pilotnya berhasil ditangkap hidup-hidup. Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan udara yang dilancarkan Islamabad ke beberapa kota di Afghanistan.
Serangkaian serangan udara Pakistan menyasar setidaknya tiga kota, termasuk ibu kota Kabul dan Kandahar di selatan, yang menjadi basis pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada. Konflik ini bermula dari operasi perbatasan yang dilancarkan pasukan Afghanistan sebagai respons terhadap serangan udara Pakistan sebelumnya. Taliban membantah memberi tempat perlindungan bagi militan yang dituding Islamabad, dan menyerukan dialog sebagai solusi.
Klaim dan Bantahan Militer
Juru bicara kepolisian Jalalabad, Tayeb Hammad, mengonfirmasi jatuhnya jet tempur Pakistan di distrik keenam kota tersebut dan penangkapan pilotnya. Pernyataan serupa datang dari Wahidullah Mohammadi, juru bicara militer Afghanistan bagian timur. Namun, Kementerian Luar Negeri Pakistan membantah klaim tersebut dengan menyebutnya sebagai "tidak benar sama sekali".
Selain itu, Kementerian Pertahanan Afghanistan juga mengaku melakukan serangan udara di wilayah Pakistan dalam dua hari terakhir. Para pengamat menduga serangan ini melibatkan penggunaan drone. Konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini semakin memanas dengan eskalasi kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dukungan Internasional dan Dampak Konflik
Amerika Serikat menyampaikan dukungan diplomatik kepada Pakistan atas haknya membela diri dari serangan Taliban. Allison Hooker, pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS, menyatakan hal ini usai pertemuan dengan rekan Pakistannya. Sementara itu, China, Inggris, PBB, dan Palang Merah Internasional mengungkapkan keprihatinan atas peningkatan konfrontasi militer kedua negara.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengklaim bahwa pasukan Afghanistan telah membunuh 55 tentara Pakistan dan menangkap beberapa lainnya. Di pihak Pakistan, Mosharraf Zaidi menyatakan terdapat 297 pejuang Taliban dan militan yang tewas, sementara 12 tentara Pakistan gugur. Korban sipil juga dilaporkan mencapai 19 jiwa di provinsi Khost dan Paktika, meskipun angka tersebut sulit diverifikasi secara independen.
Latar Belakang Konflik dan Upaya Diplomasi
Selama berbulan-bulan, hubungan Afghanistan dan Pakistan memburuk dengan penutupan sebagian besar pos lintas batas setelah bentrok berdarah yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi pada Oktober lalu. Pakistan menuduh Afghanistan gagal menindak kelompok militan yang menyasar wilayahnya, tuduhan yang secara tegas dibantah oleh Taliban. Serangan sebagian besar diklaim oleh Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang meningkatkan aksinya sejak 2021.
Di tengah eskalasi ini, beberapa negara tetangga dan kekuatan regional berupaya meredakan ketegangan. Iran menawarkan mediasi untuk memfasilitasi dialog, sementara Arab Saudi dan Qatar bergerak mengupayakan penurunan ketegangan. China juga menyatakan sedang berupaya bekerja sama dengan kedua negara dan menyerukan penegakan ketenangan.
Fakta Penting Mengenai Eskalasi dan Negosiasi
- Pakistan telah melakukan serangan udara ke 37 lokasi di Afghanistan sejak operasi dimulai, menurut pernyataan resmi dari pihak Pakistan.
- Konflik memuncak setelah pasukan Afghanistan melancarkan ofensif perbatasan sebagai balasan terhadap serangan udara Pakistan.
- Upaya negosiasi yang difasilitasi Qatar dan Turki tahun lalu gagal menghasilkan gencatan senjata yang permanen.
- Saudi Arabia memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap Taliban pada Oktober sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi.
Ketegangan yang meningkat ini turut memicu persiapan operasi bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Internasional, meskipun organisasi tersebut menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tidak akan menggantikan kebutuhan akan kemauan politik untuk perdamaian. Situasi tersebut menunjukkan kompleksitas hubungan antara Afghanistan dan Pakistan serta urgensi penyelesaian konflik melalui dialog dan diplomasi guna mencegah semakin meluasnya kekerasan dan dampak kemanusiaan.









