Ramadan di Gaza Jadi Musim Duka Setelah Serangan Mematikan Menghancurkan Sebagian Besar Keluarga Al-Yazji

Author: Qoo Media

Saat matahari terbenam di Gaza City, Saddam al-Yazji bersama istrinya dan putrinya memecah puasa Ramadan dengan sup mie sederhana. Mereka duduk di sekitar meja lipat kecil di atas tanah di kaki reruntuhan rumah mereka yang hancur.

Reruntuhan itu menutupi tubuh sebagian besar anggota keluarga mereka. Sebanyak 40 kerabat al-Yazji tewas dalam satu serangan bom Israel yang menghancurkan rumah mereka pada Desember lalu.

Musim Ramadan yang penuh duka di Gaza

Ramadan biasanya menjadi waktu berkumpul bersama keluarga untuk makan iftar. Namun, selama konflik dengan Israel yang berlangsung lebih dari dua tahun, banyak keluarga di Gaza menghadapi kehilangan besar selama bulan suci ini.

Saddam al-Yazji yang berumur 35 tahun mengenang masa lalu saat keluarga besarnya berkumpul merayakan Ramadan. "Melihat foto-foto Ramadan kami membuat saya menangis. Di mana keluarga saya? Mereka semua musnah," ujarnya sedih.

Kenangan Ramadan sebelum perang

Sebelum konflik, ayah Saddam, Kamel al-Yazji, rutin mengundang semua anak dan cucunya untuk iftar di atas meja penuh hidangan daging, nasi, dan makanan lainnya. Bulan Ramadan merupakan waktu refleksi keagamaan dan mempererat solidaritas melalui puasa dan sedekah.

Kamel al-Yazji pernah menjadi hakim di otoritas Palestina dan dikenal sebagai ketua Federasi Atletik Palestina. Saddam sendiri mengelola sebuah supermarket di lantai dasar rumah keluarga empat lantai mereka di kawasan Rimal, Gaza City.

Serangan yang menewaskan seluruh keluarga

Serangan udara Israel menghancurkan rumah itu tidak lama setelah serangan Hamas pada Israel selatan. Seluruh keluarga yang sedang berkumpul dalam rumah itu tewas, termasuk 22 anak-anak. Saddam, istrinya, dan putri mereka yang berusia 11 tahun selamat secara ajaib karena berada di bagian rumah yang berbeda.

Ketiga orang yang selamat selama perang itu sempat hidup di tenda di tempat lain di Gaza City. Mereka berusaha mengunjungi reruntuhan rumah keluarga selama iftar di dua Ramadan terakhir.

Ketika gencatan senjata mulai berlaku, mereka pindah ke tenda di dekat rumah lama. "Hidup terasa hampa. Perang telah mengambil segalanya dari saya. Kami berharap mati bersama mereka daripada hidup sendiri," kata Heba al-Yazji dengan penuh kesedihan.

Dampak luas perang pada keluarga Gaza

Israel terus menargetkan rumah dan kamp-kamp tempat tinggal warga Palestina, seringkali merenggut nyawa banyak anggota keluarga sekaligus. Mereka mengklaim sasaran adalah militan Hamas, namun jarang menjelaskan secara rinci siapa yang menjadi target.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dipimpin Hamas, lebih dari 72.000 orang tewas akibat serangan tersebut. Sekitar setengahnya adalah perempuan dan anak-anak.

Lebih dari 8.000 jenazah masih terkubur di bawah puing-puing rumah yang hancur. Upaya evakuasi terhambat oleh keterbatasan alat berat meski gencatan senjata memungkinkan pengerahan lebih banyak sumber daya.

Kehilangan hampir menyeluruh di antara penduduk

Hampir seluruh 2,1 juta penduduk Gaza mengalami kehilangan anggota keluarga. Lebih dari 80 persen bangunan di daerah tersebut rusak parah atau hancur total. Sebagian besar kini tinggal di kamp-kamp tenda yang padat.

Di daerah Rimal yang hancur, Saddam teringat meja makan besar keluarganya dulu. Suasana Ramadan yang semarak berubah menjadi suasana duka yang menyelimuti reruntuhan rumah.

Dia mengaku merasa bersalah masih hidup sementara keluarga dan kerabatnya musnah. Perasaan ini mencerminkan beban berat yang dirasakan banyak orang Gaza selama Ramadan di tengah konflik berkepanjangan ini.

Terbaru