Setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, banyak maskapai penerbangan menghentikan operasi di wilayah Timur Tengah. Penutupan ruang udara di negara-negara seperti Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar membuat penerbangan di kawasan tersebut nyaris terhenti.
Menurut data dari layanan pelacak penerbangan Flightradar24, udara di atas negara-negara tersebut terlihat sangat kosong. Bandara-bandara utama seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha juga mengalami penutupan atau pembatasan layanan yang cukup ketat.
Dampak Penutupan Penerbangan oleh Maskapai
Banyak maskapai telah mengumumkan pembatalan penerbangan sejak serangan tersebut dengan jadwal berbeda-beda:
- Air Canada membatalkan penerbangan ke Israel hingga awal Maret dan ke Dubai hingga beberapa hari berikutnya.
- Lufthansa menghentikan penerbangan ke berbagai kota Timur Tengah termasuk Tel Aviv, Beirut, dan Abu Dhabi sampai pekan depan.
- Emirates menangguhkan semua penerbangan ke dan dari Dubai hingga pertengahan hari pada tanggal yang ditentukan.
- Qatar Airways juga menunda penerbangan karena penutupan ruang udara Qatar dan akan memberikan pembaruan setelahnya.
- Maskapai regional seperti Flydubai, Etihad, dan Azerbaijan Airlines juga menghentikan operasional ke sejumlah tujuan di Timur Tengah.
Daftar Bekuan Penerbangan Utama
Beberapa maskapai besar yang menghentikan penerbangan meliputi:
- AEGEAN Airlines: berhenti terbang ke Tel Aviv, Beirut, dan Erbil hingga 2 Maret.
- Air Europa dan Iberia Express membatalkan penerbangan ke Tel Aviv beberapa hari berturut-turut.
- British Airways menangguhkan perjalanan ke Tel Aviv dan Bahrain sampai awal Maret.
- Turkish Airlines membatalkan penerbangan ke berbagai negara seperti Qatar, Kuwait, dan Lebanon hingga tanggal tertentu di awal Maret.
- Wizz Air menghentikan penerbangan ke Israel, Dubai, dan Abu Dhabi hingga lebih dari seminggu.
Penyesuaian Operasi dan Keamanan
Maskapai seperti Virgin Atlantic memilih untuk menghindari ruang udara Irak dengan melakukan rute ulang demi keselamatan. Kebijakan penghentian penerbangan ini juga mencakup pembatalan beberapa penerbangan ke dan dari Eropa serta Amerika Utara yang melalui wilayah udara Timur Tengah.
Pihak-pihak terkait terus memantau situasi di lapangan untuk menentukan kapan penerbangan bisa kembali normal. Keputusan pembatalan penerbangan didasarkan pada penilaian risiko terkait konflik yang sedang berlangsung dan penutupan ruang udara di sejumlah negara.
Dalam kondisi geopolitik yang memburuk ini, pengelola bandara dan maskapai menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan penumpang dan kru. Situasi ini dapat berubah seiring perkembangan terbaru, sehingga pihak maskapai terus memberikan update secara berkala.









