West African Regional Army Gelar Mobilisasi Ribuan Prajurit Hadapi Ancaman Terbesar Kelompok Bersenjata di Sahel dan Pantai

Author: Qoo Media

Negara-negara di Afrika Barat tengah bersiap mengaktifkan pasukan regional siaga guna menghadapi gelombang kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata lintas batas. Keputusan ini diambil dalam pertemuan tingkat tinggi para kepala militer dari anggota Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) di Sierra Leone.

Rencana tersebut meliputi pengerahan awal sekitar 2.000 tentara pada akhir tahun 2026 untuk melawan kelompok bersenjata yang kian memperluas wilayah dan meningkatkan taktik serangan. Kelompok-kelompok ini terkait secara ideologis dengan al-Qaeda dan ISIL (ISIS) yang kerap menyerang pos-pos militer serta permukiman sipil dari Mali hingga Nigeria.

Sejarah dan Peran ECOWAS Standby Force
Pasukan Siaga ECOWAS (ESF) secara resmi dibentuk pada 1999 dengan kontribusi personel militer, polisi, dan sipil dari negara-negara anggota. ESF telah berperan penting dalam mengakhiri berbagai konflik di kawasan dan menstabilkan negara-negara dalam masa transisi.

Sebelumnya, ESF dikenal sebagai ECOWAS Monitoring Group (ECOMOG) dan menjadi kekuatan utama yang mengakhiri perang saudara di Liberia dan Sierra Leone pada dekade 1990-an. Nigeria dan Ghana menyumbang jumlah tentara terbesar dalam misi-misi ini. Namun, pasukan ini juga pernah dikritik karena pelanggaran HAM selama menjalankan operasi tempur, yang membedakannya dari misi perdamaian PBB.

Ancaman dan Tantangan Operasional
Kini, ESF harus menghadapi kelompok bersenjata yang lebih terorganisir dan ideologis, berbeda dengan pemberontak politik pada masa lalu. Laporan Center for Democracy and Development menyebutkan, pada paruh pertama tahun 2025 saja, terdapat hampir 13.000 korban jiwa akibat konflik di wilayah tersebut, dengan konsentrasi utama di Nigeria, Burkina Faso, Mali, dan Niger.

Tantangan besarnya adalah pendanaan dan koordinasi pasukan, serta perpecahan yang terjadi setelah Niger, Mali, dan Burkina Faso keluar dari ECOWAS dan membentuk Aliansi Negara Sahel (AES) pada awal 2025. Nigeria yang pernah menjadi penyokong utama pasukan ECOWAS kini menghadapi tekanan ekonomi dan konflik internal yang membentang di berbagai wilayah.

Menurut analis Beverly Ochieng dari Control Risks, respons terhadap kelompok bersenjata ini harus lebih holistik dengan menggabungkan aksi militer dan intervensi sosial. Kelompok bersenjata sering mendapatkan dukungan lokal dengan mengumpulkan pajak dan menyediakan layanan seperti pupuk atau pembangunan masjid.

Keretakan ECOWAS dan AES: Pengaruh terhadap Pasukan Regional
Perpecahan antara ECOWAS dan AES menjadi hambatan serius dalam membangun operasi militer terpadu. AES, yang terdiri dari Mali, Niger, dan Burkina Faso, menolak dominasi politik ECOWAS dan lebih memilih aliansi dengan Rusia, termasuk menggunakan kontraktor militer seperti Wagner Group dan Afrika Korps Rusia.

Meski begitu, ECOWAS terus menjalin komunikasi dengan AES melalui mediasi negara-negara seperti Senegal dan mengundang mereka ke pertemuan regional. Ochieng memperkirakan bahwa fokus ECOWAS pada kontra-terorisme mungkin menjadi jalan bagi perbaikan hubungan, terutama dalam bidang intelijen dan operasi gabungan.

Daftar Kelompok Bersenjata Utama di Afrika Barat

  1. Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM): Al-Qaeda terkait, beroperasi di Mali, Burkina Faso, Benin, Niger dan Nigeria; sekitar 5.000-6.000 anggota.
  2. Boko Haram: Terkenal karena penculikan gadis Chibok; aksi tersebar di Nigeria, Kamerun, Chad dan Niger; sekitar 1.500 anggota.
  3. Islamic State West Africa Province (ISWAP): Pecahan Boko Haram, beroperasi di Nigeria Timur Laut; 3.500-5.000 anggota.
  4. Islamic State Sahel Province (ISSP): Beroperasi di Niger dan Mali, bertanggung jawab atas serangan bandara Niamey; sekitar 400 anggota.
  5. Lakurawa: Diperkirakan berasal dari Mali, beroperasi di Nigeria Barat Laut; sekitar 1.000 anggota.
  6. Ansaru: Pecahan Boko Haram yang terkait dengan al-Qaeda, aktif di Nigeria Utara dengan praktik penculikan untuk tebusan; sekitar 2.000-3.000 anggota.

Pasukan serbaguna ECOWAS ini diharapkan mampu mengatasi ancaman yang semakin kompleks dan beragam ini. Namun, keberhasilan misi sangat bergantung pada kemampuan mengatasi masalah pendanaan, koordinasi antarnegara, dan integrasi antara strategi militer serta intervensi sosial di daerah-daerah rawan.

Pengaktifan kekuatan militer regional ini merupakan momen penting bagi Afrika Barat dalam melindungi keamanan dan kestabilan kawasan yang terus menghadapi gelombang kekerasan dari kelompok bersenjata yang semakin mematikan. Kerjasama internasional dan dialog antarnegara anggota menjadi kunci untuk meredam krisis keamanan yang mengancam jutaan nyawa dan kesejahteraan masyarakat.

Terbaru