Pemilihan parlemen Nepal kali ini diadakan hanya tiga tahun setelah pemilu nasional sebelumnya. Situasi politik yang tidak stabil setelah pemberontakan pemuda pada 2025 menyebabkan jatuhnya pemerintahan yang terpilih dalam pemilu terakhir.
Komisi Pemilihan Umum Nepal mencatat sebanyak 18,9 juta warga terdaftar sebagai pemilih. Dari jumlah tersebut, sekitar 966 ribu adalah laki-laki dan 924 ribu perempuan, sementara hampir 200 pemilih masuk dalam kategori “lainnya” yang mencakup individu non-biner dan anggota komunitas LGBTQ+.
Angka pemilih terdaftar naik hampir satu juta dibandingkan pemilu parlemen sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh gelombang semangat politik yang menyusul pemberontakan pemuda yang membawa perubahan besar di kancah politik Nepal.
Usia minimal untuk memilih adalah 18 tahun. Pemerintah aktif mendorong kaum muda untuk mendaftar sebagai pemilih agar partisipasi mereka dalam proses demokrasi meningkat.
Pemilu kali ini akan memilih 275 anggota parlemen. Sebanyak 165 anggota dipilih secara langsung oleh rakyat ke Dewan Perwakilan Rakyat, sementara 110 kursi lainnya diisi berdasarkan sistem representasi proporsional yang menyesuaikan dengan suara yang diperoleh partai-partai politik.
Dalam sejarah politiknya, Nepal sering mengalami ketidakstabilan dengan adanya 15 pemerintahan yang berganti dalam dua dekade terakhir. Pemerintahan biasanya terbentuk dari koalisi beberapa partai politik untuk memperoleh mayoritas di parlemen.
Dua partai besar yang lama mendominasi yakni Kongres Nepali dan Partai Komunis Nepal (Marxis–Leninis Terpadu) kini menghadapi tantangan berat. Mereka merupakan bagian dari pemerintahan yang digulingkan tahun lalu dan saat ini menghadapi ketidakpuasan publik yang meluas.
Partai Nasional Independen, yang dibentuk pada 2022, berhasil menarik dukungan signifikan dalam kampanye. Kandidat perdana menterinya adalah Balendra Shah, mantan wali kota Kathmandu sekaligus mantan rapper yang menjadi wajah baru dalam politik Nepal.
Isu pemberontakan pemuda 2025 tetap menjadi tema utama dalam kampanye pemilu ini. Berbagai partai berkomitmen untuk memperkuat suara kaum muda serta berjanji melawan korupsi dan memperbaiki tata kelola pemerintahan.
Pemilu ini tidak hanya mencerminkan dinamika politik saat ini tetapi juga mencerminkan aspirasi generasi muda Nepal yang ingin perubahan nyata. Hasil pemilu nantinya akan menentukan arah kebijakan dan stabilitas politik negara tersebut dalam beberapa tahun ke depan.







