
Evakuasi warga Amerika dari kawasan Timur Tengah menghadapi tantangan besar akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Akses udara yang terbatas akibat penutupan ruang udara membuat operasi penyelamatan semakin rumit dan memakan waktu.
Bryan Stern, pendiri Grey Bull Rescue, menyatakan bahwa ruang udara yang luas terkena penutupan membuat timnya kesulitan mengatur evakuasi. Grey Bull Rescue sudah beberapa hari berada di wilayah tersebut membantu warga Amerika yang terjebak pasca serangan balasan Iran setelah Operasi Epic Fury.
Konflik ini belum berakhir dengan deklarasi perang resmi, namun dampak serangan sangat parah. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut menjadi korban tewas beserta sejumlah pejabat penting dan ratusan warga sipil.
Data dari FlightAware menunjukkan lebih dari 9.800 penerbangan dibatalkan hingga Selasa pagi. Sebagian besar pembatalan terjadi pada maskapai Timur Tengah seperti Emirates dengan 467 penerbangan yang dibatalkan, FlyDubai sebanyak 177 penerbangan, dan Qatar Airways dengan 128 penerbangan.
Stern menyatakan, biasanya evakuasi semacam ini hanya berfokus pada satu negara yang berisiko, seperti Israel atau Lebanon. Namun kali ini, penutupan dan risiko tersebar luas di banyak negara yaitu Dubai, Yordania, Israel, Lebanon, dan Qatar, membuat operasi penyelamatan menjadi sangat padat dan kompleks.
Bandara utama yang paling terdampak adalah Dubai, diikuti oleh Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv dan Bandara Internasional Bahrain. Departemen Luar Negeri AS terus berusaha menyediakan pesawat untuk membantu evakuasi warga negaranya dari kawasan konflik.
Fokus Grey Bull Rescue saat ini adalah wilayah Israel dan Dubai, dengan lonjakan permintaan evakuasi dari kedua daerah tersebut. Sekitar 90% permintaan evakuasi berasal dari Israel, sedangkan 10% datang dari Dubai. Stern mengantisipasi proporsi tersebut akan berubah seiring perkembangan situasi.
Hingga saat ini, Grey Bull Rescue telah menerima hampir 500 permintaan bantuan evakuasi dari warga Amerika yang ingin keluar dari zona konflik. Stern memperingatkan bahwa hari-hari ke depan akan tetap sulit dan dibutuhkan usaha ekstra untuk mengatasi hambatan yang ada.
Fakta ini menegaskan bahwa konflik yang terus memanas di Timur Tengah turut mempengaruhi keselamatan warga sipil, terutama warga negara asing yang berada di wilayah tersebut. Upaya penyelamatan dan evakuasi menjadi sangat krusial di tengah kondisi udara yang dibatasi dan gejolak politik yang belum mereda.









