Pagi ini, sebuah serangan diduga menggunakan drone asal Iran menghantam area parkir konsulat Amerika Serikat di Dubai. Serangan ini memicu kebakaran yang menyebabkan asap hitam membubung ke udara, menurut pernyataan resmi dari pejabat Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengonfirmasi bahwa seluruh staf konsulat dalam keadaan aman setelah insiden tersebut. Serangan ini merupakan kelanjutan dari serangkaian serangan balasan yang dilancarkan Iran sebagai reaksi atas operasi militer besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Detil Serangan dan Respons Amerika Serikat
Rubio menyebut, “Sebuah drone menyerang area parkir yang berdekatan dengan gedung konsulat, mengakibatkan kebakaran di lokasi tersebut.” Ia juga menjelaskan bahwa personel Amerika Serikat di wilayah tersebut sudah dikurangi hingga tingkat minimal demi keselamatan akibat eskalasi serangan balasan Iran.
Pemerintah Dubai melalui kantor media resminya mengonfirmasi bahwa api akibat insiden drone ini sudah berhasil dipadamkan. Sampai saat ini, tidak ada laporan korban luka dalam kejadian tersebut.
Peningkatan Serangan Iran di Kawasan Teluk
Sebelumnya pada hari yang sama, kedutaan besar Amerika Serikat di Riyadh juga menjadi sasaran serangan drone yang diduga berasal dari Iran. Konflik yang berlangsung menyebabkan penutupan kedutaan secara tidak terbatas di beberapa negara seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon. Selain itu, sejumlah konsulat ditutup dan warga Amerika disarankan segera meninggalkan setidaknya 14 negara di kawasan Timur Tengah karena risiko keamanan yang serius.
Setelah konflik pecah beberapa hari lalu, enam anggota militer Amerika Serikat telah tewas, sementara media Iran melaporkan korban tewas mereka mencapai sekitar 780 orang, walaupun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Upaya Evakuasi dan Kritik Terhadap Pemerintah AS
Menteri Rubio bersama Departemen Luar Negeri mengimbau warga Amerika untuk segera meninggalkan negara-negara seperti Mesir, Irak, Yordania, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Qatar dengan menggunakan transportasi komersial yang tersedia. Pernyataan ini disampaikan oleh Asisten Menteri Luar Negeri untuk urusan umum global, Mora Namdar, melalui unggahan di platform media sosial X.
Untuk membantu evakuasi, Departemen Luar Negeri juga menyiapkan pesawat militer dan penerbangan sewaan bagi warga Amerika yang ingin meninggalkan Timur Tengah. Mereka terus berkomunikasi dengan sekitar 3.000 warga Amerika di luar negeri. Sejak awal konflik, sekitar 9.000 warga Amerika telah meninggalkan kawasan tersebut.
Namun demikian, kritik datang dari Senator Demokrat Andy Kim yang menyatakan bahwa kantornya menerima banyak keluhan dari warga Amerika di Timur Tengah mengenai minimnya dukungan evakuasi dari pemerintah AS. Ia menilai peringatan evakuasi baru dikeluarkan tiga hari setelah konflik berlangsung, saat sebagian besar ruang udara sudah ditutup, menunjukkan kurangnya strategi dan persiapan pemerintah sebelumnya.
Kondisi di kawasan Timur Tengah tetap sangat dinamis dan rawan, dengan risiko serangan terhadap aksi diplomatik dan warga sipil yang terus meningkat. Pemerintah AS berupaya menjaga keselamatan warganya serta mendukung stabilitas di wilayah tersebut, sementara ketegangan dengan Iran masih berlangsung.
