Prancis telah memberikan izin bagi pesawat militer Amerika Serikat yang tidak terlibat langsung dalam serangan ke Iran untuk menggunakan pangkalan udara mereka. Pangkalan udara Istres di Prancis kini dapat dipakai oleh pesawat pendukung operasi AS yang semata-mata untuk tujuan pertahanan.
Pengumuman ini disampaikan oleh staf jenderal militer Prancis, yang menegaskan bahwa pesawat AS yang beroperasi di pangkalan tersebut dipastikan tidak ikut serta dalam kegiatan ofensif terhadap Iran. Mereka hanya memberikan dukungan logistik dan pertahanan bagi mitra Prancis di kawasan Teluk.
Presiden Emmanuel Macron sebelumnya mengkritik operasi militer AS-Israel di Iran dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan di luar hukum internasional. Oleh karena itu, Prancis menempuh sikap yang ketat dan defensif, memastikan keterlibatannya terbatas pada dukungan non-tempur.
Menurut pernyataan dari Alice Rufo, menteri delegasi bidang pertahanan, penggunaan pangkalan Istres untuk pesawat pendukung adalah prosedur rutin dalam kerangka kerja NATO. Dia menambahkan bahwa di beberapa negara, izin seperti ini bahkan bersifat otomatis dan dilakukan dengan pengawasan ketat.
Petsawat yang dimaksud adalah pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 yang tiba dari pangkalan Amerika di Rota, Spanyol. Data Flightradar24 menunjukkan empat pesawat KC-135 mendarat pada hari Senin dan satu pesawat lainnya pada hari Rabu, semuanya tetap berada di pangkalan tersebut hingga kini.
Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin, menegaskan bahwa pesawat pengisian bahan bakar udara ini berfungsi sebagai stasiun pelayanan udara, bukan sebagai pesawat tempur atau serang. Oleh sebab itu, izin penggunaan pangkalan Istres dibatasi hanya untuk operasi pengisian bahan bakar dan bukan aksi militer ofensif.
Sejak serangkaian serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai, Prancis mengambil sikap defensif ketat sesuai pernyataan Presiden Macron. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle ke kawasan Mediterania sebagai bagian dari pertahanan kolektif.
Selain itu, Prancis memiliki perjanjian pertahanan dengan beberapa negara Teluk, seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Hal ini memperkuat alasan Prancis mendukung sekutu regional dalam kapasitas non-agresif.
Kondisi ini mendapat perhatian dari politikus sayap kiri di Prancis yang mengingatkan pemerintah agar tidak terlibat secara langsung dalam konflik militer yang bisa meluas. Mereka menyoroti risiko Prancis terjebak dalam perang karena keterlibatan dukungan logistik.
Secara keseluruhan, langkah Prancis untuk mengizinkan penggunaan pangkalan udara bagi pesawat pendukung AS tanpa keterlibatan dalam ofensif menunjukkan upaya menjaga keseimbangan politik internasional. Hal tersebut mencerminkan sikap hati-hati dalam menghadapi ketegangan di Timur Tengah.









