Pernyataan mengejutkan dari Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengungkapkan sikap membanggakan rezim Iran terkait program nuklirnya yang diduga melanggar aturan internasional. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di bawah komando Rafael Grossi memberikan sinyal campur aduk mengenai ancaman tersebut, yang menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan internasional.
Grossi mengklaim belum menemukan bukti Iran membangun bom nuklir, meskipun akses penuh ke fasilitas nuklir Iran masih dibatasi. Ini kontradiktif dengan rincian yang disampaikan Witkoff, yang mengungkap bahwa Iran memiliki cadangan uranium yang dapat dengan cepat diperkaya menjadi senjata nuklir.
Detail Cadangan Uranium Iran dan Potensi Senjata Nuklir
Witkoff menjelaskan bahwa Iran memiliki sekitar 10.000 kilogram bahan fisi yang tersebar, termasuk 460 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, dan sekitar 1.000 kilogram uranium dengan pengayaan 20%. Dengan kemampuan memproduksi sentrifugal secara mandiri, Iran bisa meningkatkan kualitas uranium 60% menjadi lebih dari 90%—tingkat senjata—dalam waktu sekitar satu minggu hingga 10 hari.
Lebih mengejutkan lagi, negosiator Iran dengan bangga mengklaim menguasai cadangan uranium 60% yang bisa menghasilkan sekitar 11 bom nuklir. Mereka juga terbuka mengakui keberhasilan mengelabui pengawasan internasional untuk mencapai posisi ini.
Sikap IAEA dan Kritikan terhadap Pengawasan
Grossi, yang mencalonkan diri sebagai Sekretaris Jenderal PBB berikutnya, mengakui adanya "stok besar uranium hampir setara senjata" di Iran. Namun, IAEA belum mendapat izin penuh untuk memeriksa program tersebut secara menyeluruh. Oleh sebab itu, badan ini tidak dapat memastikan bahwa program nuklir Iran hanya untuk tujuan perdamaian.
Richard Goldberg, penasihat senior dari Foundation for the Defense of Democracies, menyoroti bahwa peringatan Grossi selama pemerintahan Biden sering diabaikan. Ia menyatakan Iran sudah melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menipu IAEA mengenai fasilitas dan aktivitas nuklirnya yang tidak terungkap.
Analisis Ahli Mengenai Potensi Nuklir dan Lokasi Enrichment
Spencer Faragasso dari Institute for Science and International Security menyebutkan bahwa sebelum konflik pada Juni 2025, Iran memiliki uranium diperkaya 60% sebanyak 440,9 kilogram. Karena rata-rata dibutuhkan sekitar 24-25 kilogram uranium 90% untuk satu senjata nuklir, Iran secara teoritis dapat memproduksi 11 senjata dalam sebulan.
Ada beberapa ketidakpastian terkait kemampuan Iran mengakses material yang diperkaya dan jumlah sentrifugal serta lokasi pembangunan fasilitas baru. Israel baru-baru ini melakukan serangan terhadap situs nuklir yang sebelumnya tak diketahui, Min-Zadayi, yang menurut Israel adalah pusat pengembangan komponen senjata nuklir.
Langkah Militer dan Politik dalam Menghadapi Ancaman Nuklir Iran
Operasi militer gabungan AS-Israel yang dikenal sebagai "Operation Midnight Hammer" menargetkan sejumlah situs nuklir Iran untuk menghambat kemajuan program tersebut. Meski begitu, para pejabat memperingatkan bahwa dampak serangan ini tidak permanen karena Iran berencana merekonstruksi dan memperluas program nuklirnya.
Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa rezim radikal di Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia mengingatkan bahwa kemampuan Iran untuk melakukan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri menunjukkan ancaman serius bagi keamanan dunia.
Fakta Kunci Mengenai Program Nuklir Iran dan Pengawasan Internasional
- Iran mengklaim memiliki "hak yang tidak dapat dicabut" untuk memperkaya uranium.
- Mereka menguasai cadangan uranium diperkaya tingkat tinggi yang cukup untuk 11 bom nuklir.
- Iran memproduksi sendiri sentrifugal untuk mempercepat pengayaan uranium.
- IAEA tidak memiliki akses penuh ke semua fasilitas nuklir di Iran.
- Serangan militer AS-Israel berupaya menghancurkan situs nuklir rahasia Iran.
- Iran berencana membuka fasilitas pengayaan uranium baru, yang keberadaannya masih diragukan.
- IAEA dan komunitas internasional mempertanyakan sikap transparansi Iran.
- Sekretaris Negara AS menolak keras kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir.
Meski laporan IAEA berusaha menenangkan kekhawatiran, pernyataan dan bukti yang disampaikan oleh Witkoff dan analis independen menunjukkan program nuklir Iran terus berkembang dengan tingkat pengayaan berbahaya. Kegagalan pengawasan penuh oleh PBB dan IAEA memungkinkan Iran menghindari pengawasan ketat, sementara tekanan diplomatik dan militer terus dilakukan untuk menahan ambisi nuklir Tehran.
