Amerika Serikat (AS) meminta Sri Lanka untuk tidak mengizinkan para penyintas dari kapal perang Iran yang baru-baru ini ditenggelamkan kembali ke Iran. Permintaan ini muncul setelah kapal selam AS menyerang IRIS Dena di Samudra Hindia, sekitar 19 mil laut dari pelabuhan Galle di Sri Lanka.
Penenggelaman kapal tersebut menewaskan puluhan awak dan menandai eskalasi ketegangan militer AS terhadap Angkatan Laut Iran. Selain itu, Sri Lanka juga menahan kru dari kapal Iran lainnya, IRIS Booshehr, yang sempat terdampar di zona ekonomi eksklusif Sri Lanka.
Tekanan AS kepada Sri Lanka
Menurut surat internal Departemen Luar Negeri AS, Jayne Howell, pejabat kedutaan AS di Colombo, menekankan agar Sri Lanka tidak mengembalikan kru kapal IRIS Booshehr maupun 32 penyintas dari IRIS Dena ke Iran. Howell juga mengingatkan agar pihak Sri Lanka meminimalkan upaya Iran memanfaatkan para tahanan untuk kepentingan propaganda.
Selain itu, Howell juga berkomunikasi dengan duta besar Israel untuk India dan Sri Lanka, menegaskan tidak ada rencana untuk memulangkan kru ke Iran. Ada juga pembicaraan terkait kemungkinan mendorong kru kapal untuk melakukan defeksi dari Iran.
Kondisi korban dan penanganan Sri Lanka
Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menyatakan bahwa negaranya memiliki tanggung jawab kemanusiaan untuk menampung kru kapal yang berada dalam pengawasannya. Sri Lanka sudah mulai memindahkan 208 awak dari kapal IRIS Booshehr ke kamp militer di dekat Colombo.
Deputi Menteri Kesehatan dan Media Sri Lanka, Hansaka Wijemuni, menyebutkan bahwa Iran telah meminta bantuan untuk mengembalikan jenazah korban dari IRIS Dena. Namun, pihak Sri Lanka belum menentukan jadwal pemulangan jenazah tersebut.
Konteks serangan dan dampaknya
IRIS Dena sedang dalam perjalanan pulang ke Iran setelah mengikuti latihan militer di Teluk Benggala yang dipimpin India. Serangan yang dilakukan oleh kapal selam AS menggunakan torpedo dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu. Seorang sumber resmi AS mengatakan kapal tersebut juga dalam kondisi bersenjata saat diserang.
Dalam surat Departemen Luar Negeri AS disebutkan bahwa kapal IRIS Booshehr akan tetap berada di bawah penjagaan Sri Lanka selama konflik berlangsung. Sri Lanka kini mengawal kapal tersebut ke pelabuhan di pantai timur sekaligus memisahkan kru-nya dari awak lainnya.
Implikasi geopolitik
Serangan terhadap kapal perang Iran oleh AS ini merupakan kali pertama sejak Perang Dunia II dan menandai perluasan wilayah konflik antar kedua negara. Kejadian ini berpotensi memengaruhi stabilitas regional di Samudra Hindia dan meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran.
Langkah Sri Lanka dalam menampung dan menangani kru kapal Iran menempatkan negara pulau ini pada posisi yang sensitif secara diplomatik antara kekuatan besar dunia. Keputusan Sri Lanka untuk tidak memulangkan kru kapal ke Iran dan instruksi dari AS membuka ruang bagi dinamika politik dan kemanusiaan yang kompleks di kawasan ini.
