Iran berhasil melumpuhkan sejumlah sistem radar canggih milik Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Keberhasilan ini memicu spekulasi mengenai peran intelijen satelit Rusia yang diduga membantu Iran dalam melancarkan serangan presisi tinggi tersebut.
Citra satelit terbaru Airbus pada 2 Maret 2026 menunjukkan kerusakan parah pada radar AN/TPY-2 di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Radar ini merupakan bagian penting dari sistem pertahanan rudal terminal high altitude area defense (THAAD) yang bernilai hampir US$ 500 juta per unit.
Selain kerusakan di Yordania, radar AN/FPS-132 di Qatar juga mengalami serangan. Radar yang dijuluki "mata super" ini memiliki jangkauan hingga 4.800 km dan harga lebih dari US$ 1 miliar. Di Uni Emirat Arab, gudang penyimpanan sistem THAAD di pangkalan Al Ruwais dan Al Sader pun menjadi target serangan rudal.
Peran Intelijen Satelit Rusia
Amerika Serikat mempertanyakan bagaimana Iran dapat menyerang target bernilai tinggi dengan tingkat akurasi tinggi. Laporan Washington Post mengungkap dugaan bahwa Rusia memberikan data intelijen satelit real-time kepada Iran.
Dara Massicot, analis dari Carnegie Endowment for International Peace, menyatakan bahwa sistem satelit Rusia jauh lebih canggih dibandingkan milik Iran. Ia menilai bantuan tersebut sebagai cara Moskow membalas dukungan Amerika terhadap Ukraina.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar soal dugaan bantuan intelijen ini. Namun, sumber intelijen menyebut citra satelit yang diberikan mampu mengidentifikasi target dengan kecepatan dan akurasi tinggi.
Strategi Serangan Drone Iran
Selain dukungan satelit Rusia, Iran menggunakan taktik serangan jenuh (saturation attack) dengan ribuan drone bunuh diri. Pejabat Amerika mengakui bahwa drone Iran yang terbang rendah dan lambat ini sulit dideteksi oleh radar pertahanan udara.
Laporan CNN menjelaskan bahwa drone tersebut bisa melewati sistem radar seperti Patriot dan THAAD karena jumlahnya yang sangat banyak. Taktik ini membuat sistem pertahanan menjadi kewalahan dalam menghadapi serangan sekaligus.
Risiko Kehabisan Amunisi Amerika Serikat
Mantan perwira Angkatan Laut Inggris, Tom Sharpe, memperingatkan bahwa Amerika Serikat berisiko kehabisan rudal pencegat jika intensitas serangan Iran terus meningkat.
Sharpe menyatakan bahwa persenjataan Patriot dan THAAD bisa habis bila Iran menggunakan seluruh stok drone dan rudal yang dimiliki. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump yang menyebut persenjataan AS nyaris tak terbatas.
Washington kini menghadapi dilema pelik untuk mengembalikan kemampuan radar dan pertahanan udaranya. Konflik yang semakin kompleks ini menuntut langkah strategis untuk menghadapi ancaman yang sulit diprediksi.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




