Orang Tua Muda China Peras Pengeluaran, Subsidi Bayi Rp7 Jutaan Tak Cukup Redam Biaya Kebutuhan Anak yang Meroket

Author: Qoo Media

Orang tua muda di Cina menghadapi tekanan besar akibat kenaikan biaya perawatan anak, meskipun pemerintah telah mengeluarkan beragam insentif keuangan. Upaya Beijing untuk mendorong kelahiran kembali menghadapi kendala karena beban finansial keluarga muda terus meningkat.

Zhang Xiaofei, baru saja menjadi ibu, memilih menabung terlebih dahulu sebelum memiliki anak. Pasangan suami istri tersebut sama-sama bekerja sebagai manikuris dan menyadari keterbatasan kondisi keuangan keluarga mereka. Zhang mengatakan keinginan mereka adalah memberikan kehidupan terbaik bagi anaknya, tetapi biaya yang harus ditanggung sangat tinggi.

Pemerintah Cina memperkenalkan program subsidi tahunan sebesar 3.600 yuan untuk setiap anak dan menyediakan pendidikan prasekolah gratis. Meski anggaran subsidi tahun lalu menghabiskan lebih dari 100 miliar yuan, banyak keluarga muda merasa bantuan tersebut tidak cukup. Zhu Yunfei, suami Zhang, menyamakan subsidi itu seperti “voucher lima yuan untuk Rolls-Royce”, sebuah ungkapan yang menggambarkan ketidaksesuaian bantuan dengan biaya nyata.

Kebutuhan pokok seperti susu formula dan popok menjadi beban utama yang sulit dipenuhi hanya dengan subsidi. Zhu bahkan harus mencari popok bekas demi mengurangi pengeluaran. Di sisi lain, Li, pria dari Henan yang juga menjadi calon ayah, bahkan harus bekerja sambilan dan melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kehamilan gratis demi menghindari biaya tinggi.

Pakarnya, Yun Zhou, menyatakan bahwa subsidi keuangan seringkali tidak menghasilkan peningkatan signifikan dalam angka kelahiran. Tekanan karier dan diskriminasi berbasis gender membuat perempuan muda terutama yang berpendidikan tinggi enggan memiliki anak. Pemerintah sudah melarang praktik diskriminasi terhadap wanita hamil di tempat kerja, tetapi kekhawatiran soal karier dan kehidupan tetap menjadi penghalang.

Selain itu, citra keluarga ideal yang dipromosikan pemerintah masih sangat konservatif dan berfokus pada pernikahan heteroseksual, sehingga tidak mencerminkan realitas kehidupan banyak orang muda saat ini. Parlemen bahkan mengusulkan penurunan usia menikah dan insentif tambahan bagi keluarga dengan tiga anak, tetapi usulan ini mendapat kritik tajam di media sosial.

Yuan Limei, ibu dengan dua anak, menggambarkan pengalaman pengasuhan anak sebagai beban ekonomi dan waktu yang sangat besar. Dia merasa tidak mungkin untuk bekerja jika harus mengurus anak-anak secara penuh waktu. Menurut daya beli di kota besar seperti Beijing, subsidi tidak cukup membantu, tetapi di daerah pedesaan, 3.600 yuan masih memiliki nilai berarti.

Berbagai faktor ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah berusaha menciptakan lingkungan “ramah kelahiran”, faktor ekonomi, sosial, dan budaya masih menjadi rintangan besar bagi keluarga muda. Pendekatan yang lebih komprehensif dan responsif terhadap kebutuhan riil orang tua muda mungkin diperlukan agar kebijakan bisa efektif dalam mendongkrak angka kelahiran nasional.

Terbaru