Pada hari kesembilan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serangan Israel telah memasuki tahap baru dengan menargetkan sumber daya energi Iran, termasuk lokasi penyimpanan bahan bakar. Serangan ini terjadi setelah sejumlah aksi balasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang dianggap pro-AS terus berlanjut meskipun ada permintaan maaf dari pejabat Iran.
Ketidakpastian Pemimpin Baru Iran
Meski ada kabar bahwa pengganti Ayatollah Ali Khamenei sudah hampir dipilih, belum ada pengumuman resmi dari Majelis Ahli yang bertugas memilih pemimpin tertinggi berikutnya. Beberapa ulama senior mengeluhkan penundaan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa "tidak ada yang tahu" siapa calon pemimpin baru, sebagaimana dilaporkan oleh NBC News.
Serangan Target Energi Iran oleh Israel
Militer Israel menegaskan telah menyerang tempat penyimpanan bahan bakar di Tehran yang memasok kebutuhan konsumen dan entitas militer. CNN melaporkan adanya hujan hitam akibat kebakaran di ibu kota Iran pada Minggu pagi. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut bahwa Israel dan AS hampir sepenuhnya menguasai ruang udara Iran dan masih memiliki banyak target serta kejutan yang disiapkan.
Serangan Berlanjut di Negara Teluk
Negara-negara di Teluk Persia melaporkan serangan udara dan intersepsi pada Minggu dini hari. Termasuk serangan drone terhadap penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait serta serangan di Arab Saudi, Bahrain, UAE, dan Qatar. Meski pabrik penyuling air di Bahrain rusak akibat serangan, suplai air minum dari desalinasi tetap tidak terganggu. Pabrik-pabrik desalinasi merupakan infrastruktur vital yang menyediakan sekitar 60% hingga 90% kebutuhan air minum di kawasan tersebut.
Fokus Iran pada Negara Teluk dan Amerika Serikat
Juru bicara Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengungkapkan bahwa sekitar 60% kekuatan serangan Iran ditujukan ke aset AS di Timur Tengah, sedangkan 40% terhadap sasaran Israel. Mereka menganggap AS sebagai musuh utama dalam konflik ini, sehingga menjadi prioritas pembalasan.
Korban Sipil dan Kerusakan di Lebanon
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 1.205 warga sipil Iran, termasuk 194 anak-anak, tewas sejak awal konflik. Di Lebanon, serangan Israel terhadap sebuah hotel di Beirut menewaskan minimal empat orang dan melukai sepuluh lainnya, dengan total korban meninggal mencapai 394 orang sejak serangan Israel ke negara tersebut berlangsung. Serangan ini menyasar pusat kota Beirut bukan wilayah yang dikuasai Hezbollah.
Kondisi Militer dan Wilayah Lain di Kawasan
Dua tentara Israel tewas dalam pertempuran di perbatasan Israel-Lebanon, menandai tentara Israel pertama yang gugur dalam perang ini. Setidaknya 14 tentara lain terluka akibat bentrokan terbaru di wilayah tersebut. Gangguan penerbangan juga masih berlangsung, dengan beberapa maskapai membatasi jadwal penerbangan di Timur Tengah. Sekitar 2.000 penumpang dijadwalkan berangkat dari Bandara Ben Gurion, Israel, dalam 40 penerbangan yang akan berlangsung pada hari Minggu, menjadi penerbangan keluar pertama sejak perang dimulai.
Pernyataan Terbaru Presiden AS Donald Trump
Trump menyatakan bahwa pengiriman pasukan darat ke Iran "mungkin saja" dilakukan jika ada alasan yang sangat kuat. Ia juga menegaskan bahwa AS tidak ingin melibatkan kelompok Kurdi Iran dalam perang ini, berbeda dengan upaya CIA yang sebelumnya berencana menggerakkan pemberontakan di wilayah tersebut. Selain itu, Trump menyalahkan Iran atas serangan terhadap sebuah sekolah dasar yang menewaskan 168 anak dan 14 guru, meskipun analisis media dan para ahli menunjukkan kemungkinan besar serangan tersebut dilakukan oleh militer AS.
Situasi konflik di wilayah Timur Tengah kian memanas dan penuh ketidakpastian. Ketegangan yang terus meningkat memperlihatkan skala perang yang tidak hanya melibatkan militer, tetapi juga menyasar infrastruktur vital dan menimbulkan korban sipil yang signifikan. Pihak internasional masih memantau perkembangan guna mengantisipasi eskalasi yang lebih luas.
