Israel Tuntut Lebanon Bekukan Hezbollah Atau Terima Dampak Bencana, Korban Jiwa Dekati 300 dalam Perang yang Membara

Israel memberikan peringatan keras kepada Lebanon terkait risiko dampak bencana jika negara tersebut gagal mengendalikan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Peringatan ini disampaikan setelah serangan udara gencar yang dilancarkan Israel di beberapa markas kelompok tersebut, termasuk serangan udara jarak dekat yang menyebabkan kerusakan parah di wilayah timur Lebanon.

Konflik antara Israel dan Lebanon meningkat tajam setelah Hezbollah menembakkan rudal ke wilayah Israel pada awal pekan ini. Israel merespon dengan kampanye militer besar-besaran yang telah menewaskan hampir 300 orang dan memaksa ratusan ribu warga Lebanon mengungsi dari rumah mereka. Kondisi rusak parah terlihat di pinggiran selatan Beirut, daerah yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah, dengan bangunan-bangunan yang berubah menjadi reruntuhan dan puing-puing.

Serangan Udara dan Raid Udara Langka

Di kota Nabi Chit, serangan udara Israel dan operasi darat langka dengan helikopter menghasilkan dampak besar. Bekas ledakan tampak jelas berupa kawah besar di tanah, mobil tertimbun tanah, dan satu kendaraan bahkan terpental hingga atap bangunan dua lantai. Warga Israel juga merasakan ketegangan dengan sirine serangan rudal dan drone yang memaksa mereka berlindung ke bunker.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan lewat pernyataan televisi bahwa tanggung jawab untuk melucuti senjata Hezbollah ada pada pemerintah Lebanon. Netanyahu mengancam bahwa kegagalan Lebanon mengatasi kelompok tersebut akan menyebabkan konsekuensi "bencana" bagi negara itu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menambahkan bahwa segala wilayah Lebanon akan membayar harga yang mahal jika Hezbollah tetap bersenjata.

Tegangan Internal di Lebanon

Pemerintah Lebanon pada tahun lalu telah menginstruksikan militer untuk mendirikan monopoli senjata negara guna melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata. Namun, rencana ini menghadapi tantangan besar karena Hezbollah belum mau menyerahkan senjatanya sepenuhnya. Hal ini memicu potensi ketegangan internal yang dapat memperburuk situasi keamanan di Lebanon.

Operasi militer Israel yang menyasar wilayah Lebanon bertujuan membuang ancaman yang berasal dari sana. Salah satu aksi signifikan adalah penurunan pasukan Israel dengan helikopter di wilayah Bekaa Valley dekat Nabi Chit, yang bertujuan mencari sisa-sisa seorang navigator Angkatan Udara Israel yang hilang sejak 1986. Meski operasi ini tidak menemukan hasil yang diharapkan, pertempuran kecil terjadi antara pasukan Israel dan militan Hezbollah di lokasi tersebut, yang berakhir tanpa korban dari pihak Israel.

Dampak Serangan dan Pengungsian Massal

Serangan Israel dalam satu hari di Nabi Chit menyebabkan 41 korban tewas, termasuk tiga anggota militer Lebanon. Secara keseluruhan, serangan yang dilakukan sejak awal pekan sudah menewaskan 294 warga Lebanon dan melukai lebih dari seribu orang menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Puluhan ribu orang telah mengungsi dari daerah-daerah yang menjadi target serangan dan tinggal dalam shelter pemerintah. Menurut pejabat senior PBB, pengungsian massal ini merupakan salah satu yang paling besar dan "belum pernah terjadi sebelumnya."

Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk sejumlah wilayah di selatan Lebanon, bagian timur kota, serta seluruh pinggiran selatan Beirut—sekitar 8 persen dari total wilayah Lebanon. Selain itu, Israel juga memperingatkan warga dan diplomat Iran yang masih berada di Lebanon untuk segera meninggalkan negara tersebut sebelum menjadi target serangan.

Diplomat Iran Tinggalkan Lebanon

Sebagian besar diplomat Iran beserta keluarga mereka sudah meninggalkan Beirut, demikian kata sumber keamanan senior Lebanon. Kedutaan Iran menyatakan langkah ini diambil demi alasan keamanan, sekaligus melibatkan guru, murid sekolah Iran, serta warga Iran yang tinggal di Lebanon.

Sementara itu, Hezbollah mengimbau warga Israel yang tinggal di dekat perbatasan untuk mengungsi. Namun, pihak Israel menegaskan tidak akan melakukan evakuasi massal terhadap warganya. Tahun lalu, saat terjadi bentrokan lintas perbatasan, beberapa komunitas di utara Israel memang sempat dievakuasi.

Peringatan PBB dan Perlunya Negosiasi

PBB memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi semakin parah. Organisasi tersebut mendesak agar pembicaraan antara Israel dan Lebanon segera dilanjutkan untuk menghentikan permusuhan dan menghindari eskalasi yang lebih luas.

Situasi saat ini memperlihatkan kompleksitas dan risiko tinggi dari konflik yang melibatkan kekuatan regional dan kelompok militan bersenjata yang berpengaruh di Lebanon. Dengan ribuan korban dan pengungsian massal, kondisi kemanusiaan di Lebanon terus memburuk, sementara tekanan diplomatik dan militer dari Israel terus meningkat untuk melucuti Hezbollah guna memulihkan kedamaian di kawasan tersebut.

Berita Terkait

Back to top button