Serangkaian serangan telah menimpa sekitar 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sejak Iran memblokir jalur strategis ini sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Data dari berbagai analis menunjukkan bahwa insiden ini terjadi dalam rentang waktu satu minggu setelah pecahnya konflik dan hampir menghentikan total lalu lintas di jalur penting tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan barang global, yang biasanya dilewati sekitar 20 persen dari total ekspor minyak dunia. Namun, menurut firma analisis Kpler, lalu lintas kapal tanker di selat ini menurun hingga 90 persen selama satu minggu terakhir—sebuah penurunan drastis yang berdampak signifikan terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia.
Rincian Serangan dan Korban
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sembilan serangan terjadi dalam periode tersebut, yang mengakibatkan tujuh korban meninggal. Pada tanggal 2 Maret, tiga kapal yakni Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative dilaporkan diserang masing-masing menyebabkan satu kematian, sementara kapal Hercules Star juga terkena dampak. Pada rentang 3 hingga 5 Maret, empat kapal lain yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, serta Sonangol Namibe menjadi sasaran.
Puncak serangan terjadi pada tanggal 6 Maret, ketika kapal Mussafah 2 dihantam dan menyebabkan empat orang meninggal. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa Mussafah 2 tenggelam dua hari sebelumnya dengan catatan berbeda mengenai jumlah korban. Jakarta mengonfirmasi tiga awak asal Indonesia hilang, satu luka-luka, dan empat penyintas dari kewarganegaraan lain.
Dinamika Serangan dan Respons Militer
Data dari MarineTraffic, yang dianalisis oleh AFP, menunjukkan hanya sembilan kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz sejak awal minggu dengan beberapa kapal sengaja menonaktifkan sistem pelacak posisi mereka. Serangan ini diperkirakan menggunakan drone dan rudal yang diklaim oleh Garda Revolusi Iran, walaupun verifikasi dari sumber independen sering terhambat dan tertunda.
Laporan dari Vanguard, perusahaan keamanan maritim, mengungkap bahwa Mussafah 2 terkena dua rudal saat berusaha membantu kapal Safeen Prestige yang sebelumnya diserang. Joint Maritime Information Centre (JMIC), yang dikelola oleh koalisi angkatan laut Barat, memperingatkan bahwa kapal-kapal penyelamat atau yang melakukan operasi salvase juga berisiko terkena serangan susulan. Pola ini dianggap bertujuan menimbulkan ketidakpastian operasi dan menghalangi aktivitas komersial rutin, bukan semata-mata untuk menenggelamkan kapal secara masif.
Kontradiksi Sikap Iran dan Upaya Internasional
Iran, yang juga mengekspor minyak melewati Selat Hormuz, mengirimkan sinyal campur aduk mengenai niatnya di kawasan ini. Seorang jenderal Garda Revolusi sempat memperingatkan akan membakar kapal yang mencoba melewati selat dan menutup total ekspor minyak Teluk. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak berniat menutup jalur tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk mengawal kapal dagang yang mencoba melintasi Selat Hormuz ketika situasi memungkinkan. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menginisiasi pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan jalur pelayaran yang sangat penting bagi ekonomi global ini.
Daftar Kapal yang Terserang dalam Seminggu Terakhir
- Skylight
- MKD Vyom
- Stena Imperative
- Hercules Star
- Libra Trader
- Gold Oak
- Safeen Prestige
- Sonangol Namibe
- Mussafah 2
Perkembangan situasi di Selat Hormuz ini menjadi fokus perhatian dunia, mengingat dampaknya yang luas pada keamanan perdagangan internasional dan kestabilan geopolitik wilayah Teluk. Para analis menilai langkah selanjutnya dari berbagai pihak akan sangat menentukan arah konflik dan keamanan jalur pelayaran strategis ini di masa mendatang.
