Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Warisan Kekerasan dan Tantangan Dalam Perang Berkepanjangan

Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pengangkatan ini terjadi di tengah eskalasi perang yang meluas di kawasan dan menjadi krisis terdalam dalam sejarah Republik Islam yang telah berdiri selama 47 tahun.

Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang memilih Mojtaba yang berusia 56 tahun pada hari Minggu secara cepat dan tanpa keraguan. Pemilihan tersebut mendapat dukungan langsung dari para pemimpin politik utama, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), dan angkatan bersenjata Iran.

Dukungan Politik dan Militer

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyambut penunjukkan tersebut sebagai “era baru martabat dan kekuatan” bagi bangsa Iran. Ia mengatakan bahwa keputusan itu merupakan manifestasi kehendak umat Islam untuk memperkuat persatuan nasional yang tahan terhadap konspirasi musuh. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi pun mengucapkan selamat dan berjanji untuk memperjuangkan hak bangsa Iran serta keamanan nasional tanpa goyah.

Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tinggi yang memimpin strategi keamanan sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari, mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu di bawah kepemimpinan baru. Sadiq Larijani, kepala Dewan Expediency Iran, menegaskan pentingnya melanjutkan jalur terang yang diwariskan oleh pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.

Speaker Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa mengikuti pemimpin tertinggi merupakan kewajiban agama dan nasional. Dewan Pertahanan juga menyatakan kesetiaan penuh dengan mengatakan akan taat sampai penghabisan nyawa untuk komandan tertinggi.

Profil Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei belum pernah mengikuti pemilihan umum atau menjabat dalam posisi resmi publik. Namun ia dikenal sebagai figur pengaruh kuat dalam lingkaran dalam ayahnya dan memiliki hubungan erat dengan IRGC. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya sering disebut sebagai kandidat pengganti ayahnya yang memerintah sejak 1989.

Para pengamat menganggap pengangkatannya sebagai sinyal bahwa kelompok garis keras di dalam kekuasaan Iran masih mengendalikan situasi. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah kemungkinan tidak akan cepat melakukan kesepakatan atau negosiasi, terutama saat perang memasuki minggu kedua.

Rami Khouri, seorang ahli kebijakan publik, menyebut pengangkatan ini sebagai “tindakan kelanjutan” dan “tindakan pembangkangan” yang secara tidak langsung menyatakan kepada Amerika dan Israel bahwa sistem Iran lebih radikal kini tanpa Ayatollah Ali Khamenei. Ali Hashem dari Al Jazeera menilai Mojtaba sebagai “penjaga” ideologi ayahnya dan diperkirakan akan menjadi pemimpin konfrontatif tanpa moderasi terhadap AS dan Israel.

Reaksi Internasional

Penunjukan Mojtaba menimbulkan kemarahan di pihak Amerika Serikat, khususnya mantan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menolak calon ini. Trump menyatakan bahwa pemimpin baru harus mendapat persetujuan AS atau tidak akan bertahan lama. Senat AS Lindsey Graham menyebut pemimpin baru ini bukan perubahan yang diharapkan dan memperkirakan Mojtaba akan mengalami nasib yang sama dengan ayahnya.

Sementara itu, Rusia menyatakan dukungan penuh tanpa syarat untuk Mojtaba Khamenei. China sekaligus menolak segala bentuk serangan terhadap pemimpin tertinggi baru Iran.

Proses Pemilihan dan Penolakan Campur Tangan Asing

Majelis Ahli menegaskan bahwa keputusan pemilihan Mojtaba dilakukan dengan cepat tanpa terpengaruh oleh tekanan dari luar. Heidari Alekasir, anggota Majelis, menjelaskan bahwa pemilihan ini sesuai dengan arahan almarhum ayahnya agar pemimpin tertinggi menjadi sosok yang dibenci oleh musuh, bukan dipuji. Hal ini membantah upaya campur tangan Presiden AS sebelumnya yang ingin ikut menentukan calon pemimpin.

Ghalibaf, pimpinan parlemen, secara terbuka menolak klaim AS dengan menyatakan bahwa masa depan Iran hanya ditentukan oleh bangsa Iran sendiri, bukan oleh “geng Epstein” yang merupakan sindiran kepada kelompok berpengaruh di AS.

Kondisi Perang dan Serangan Terhadap Infrastruktur

Ayatollah Ali Khamenei memimpin Iran selama 37 tahun setelah revolusi Islam pada 1979. Ia tewas akibat serangan udara AS-Israel di Tehran yang memicu perang besar di kawasan. Selain menewaskan para pejabat tinggi Iran, serangan ini juga mengenai kapal, instalasi militer dan infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit.

Iran membalas dengan serangan ke Israel dan aset AS di kawasan. Banyak laporan menyebutkan peluncuran rudal dan drone ke sasaran sipil yang meliputi fasilitas energi, hotel, dan bandara. Di tengah pertempuran ini, langit Tehran diselimuti asap hitam akibat serangan Israel ke lima fasilitas minyak.

Korps Pengawal Revolusi Islam menyatakan memiliki stok persenjataan untuk melanjutkan serangan selama enam bulan ke depan. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menyebut bahwa Iran masih menggunakan sebagian besar rudal generasi pertama dan kedua, tetapi akan melancarkan serangan dengan rudal jarak jauh yang lebih canggih.

Trump kembali tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat AS ke Iran, meskipun terus meyakini kemenangan dalam perang tersebut. Para analis memperingatkan bahwa konflik ini belum memiliki jalan keluar yang jelas dan mungkin akan berlarut selama berbulan-bulan.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menandai fase baru dalam konflik ini. Iran menunjukkan keteguhan kebijakan dan kesiapan menghadapi tekanan eksternal, dengan potensi pergeseran dinamika politik dan militer di kawasan Timur Tengah yang sangat kompleks.

Exit mobile version