Ketegangan antara AS dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-11 dengan intensitas serangan yang belum mereda. Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal yang bertolak belakang mengenai durasi konflik, sementara Iran menegaskan kesiapan untuk melanjutkan pertempuran dalam jangka panjang.
Jumlah korban terus bertambah signifikan, dengan lebih dari 1.700 jiwa meninggal dunia dan ratusan ribu penduduk mengungsi akibat serangan. Konflik ini juga memicu gangguan terbesar pada pasokan minyak dunia, yang menimbulkan keresahan bahkan di kalangan pejabat pemerintahan AS.
Pernyataan Presiden Trump
Trump menyatakan bahwa tujuan militer AS “hampir tercapai” dan perang bisa segera berakhir. Namun, dalam pertemuan dengan anggota Partai Republik, dia mengakui “belum cukup menang.” Trump juga mengindikasikan bahwa beberapa sasaran penting di Iran sengaja dibiarkan untuk serangan masa depan. Dia menyatakan kecewa atas penunjukan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran, tanpa mengonfirmasi niat menyerangnya.
Insiden Sekolah Anak Perempuan
Serangan yang menyebabkan tewasnya sedikitnya 168 anak di sebuah sekolah anak perempuan di Iran menimbulkan kontroversi. Trump menuduh negara lain bisa menjadi pelaku serangan tersebut dan salah menyatakan bahwa Iran memiliki rudal Tomahawk yang dipakai dalam insiden itu. Rekaman yang beredar menunjukkan rudal AS menghantam sebuah pangkalan angkatan laut di dekat lokasi sekolah.
Pengaruh pada Pasokan Minyak Global
Konflik telah mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dunia. Negara-negara seperti Pakistan memberlakukan kebijakan penghematan ekstrem, sementara Korea Selatan mengenalkan batas harga bahan bakar pertama dalam hampir tiga dekade. Para menteri G7 mengadakan pertemuan untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis. Trump menyatakan akan mencabut beberapa sanksi terkait minyak, tanpa merinci, dan optimis bahwa harga minyak akan turun dalam jangka panjang.
Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak, telah praktis ditutup sejak pecahnya perang. Trump berusaha menenangkan operator tanker yang enggan melintas dan mengancam akan melancarkan serangan berat jika Iran menghalangi aliran minyak. Balasan dari Iran menyatakan pasukannya siap menghadapi kapal perang AS. Aramco memeringatkan gangguan terus-menerus di selat ini dapat menyebabkan konsekuensi “katastropik” bagi pasar minyak global.
Situasi Perang di Wilayah
Israeli melancarkan gelombang serangan udara yang menghantam infrastruktur militer di tiga provinsi Iran. Media Iran melaporkan kerusakan berat dan evakuasi korban dari bangunan tempat tinggal yang terdampak. Di Lebanon, Israel melanjutkan serangan dengan menargetkan institusi keuangan yang dikuasai Hezbollah dan mengeluarkan perintah evakuasi massal di wilayah selatan. Hezbollah membalas dengan meluncurkan roket ke utara Israel.
Aktivitas Militer di Teluk
Penyerangan dilakukan oleh milisi pro-Iran yang menargetkan konsulat Uni Emirat Arab di Erbil serta sebuah bandara dekat pangkalan militer AS. Iran sebelumnya menyatakan tidak akan menyerang tetangganya kecuali mereka menyerang terlebih dahulu. Namun, komandan militer Iran menegaskan akan meningkatkan serangan misil berat, menggunakan hulu ledak di atas satu ton. Seorang pejabat tinggi Iran menolak diplomasi untuk saat ini dan menyatakan perang hanya dapat dihentikan melalui tekanan ekonomi.
Dampak Korban Jiwa
Data dari PBB dan organisasi non-profit mencatat lebih dari 1.200 warga sipil tewas di Iran dan hampir 500 di Lebanon sejak konflik dimulai. Anak-anak menjadi korban signifikan dalam jumlah tersebut. Korban jiwa juga meluas ke beberapa negara kawasan, termasuk tujuh anggota militer AS yang gugur.
Situasi tetap dinamis dengan eskalasi yang terus berlangsung di berbagai front. Ketegangan geopolitik dan dampak kemanusiaan serta ekonomi akibat konflik ini terus menjadi perhatian komunitas internasional. Pemerintah negara-negara di kawasan dan di seluruh dunia memperhatikan perkembangan dengan kecemasan, khususnya terkait pasokan minyak dan potensi meluasnya konflik.
